Akhir-akhir
ini entah kenapa ngerasa ada sesuatu yang hilang, tapi tidak tahu itu apa. Segala
sesuatu sudah dicoba untuk mendapatkan jawaban tersebut, mulai dari merecall memory, me-list ini-itu tapi sayang
masih belum ketemu sesuatu yang hilang tersebut. Masih belum berhasil juga
menemukan penyebab utama kenapa merasakan hal ini. Setiap harinya, jujur masih
penasarasan sama apa yang sebenarnya terjadi dengan diri ini. Saya-pun terus
berusaha mencari penyebabnya, namun sayang tak kunjung dapat jawaban *tsaah
bahasanya saa.. ekeke*. Sampai pada
akhirnya saya memutuskan untuk ambi baca buku, iya seperti apa yang diungkapkan
oleh Maryanne Wolf bahwa dengan membaca buku mampu mengalihkan segalanya. Mulai
dari dari mengurangi stress, meningkatkan konsentrasi, membangun rasa percaya
diri, dan berpikir kritis. Iya disaat membaca mampu membuat otak kita untuk
fokus menciptakan gambaran, bercerita, dan mengalihkan segala gundah ataupun permasalahan
yang dirasa dengan fokus untuk mengikuti alur ceritanya. Bagi saya-pun buku
adalah senjata utama untuk mengalihkan keadaan ini. Untuk bisa terbebas dari
segala belenggu ini.
Mulai
melihat daftar bacaan yang ada dikamar, lihat beberapa list beberapa judul buku
yang dirasa dapat mengusir perasaan aneh ini. Yap, mulai dari novel picisan,
pengembangan diri, parenting. Iya, semuanya sudah selesai saya baca. Semuanya
bahkan telah selesai saya review dalam beberapa tulisan pendek. Namun
sayangnya, keberhasilan saya dalam merampungkan seluruh buku-buku tersebut
belum mampu mengusir perasaan aneh yang ada pada diri ini. Entah kenapa sehabis
melahap buku 1,2, perasaan saya berhasil tenang. Namun selang beberapa jam,
saya kembali merasakan sesuatu yang hilang, dan perasaan aneh itupun muncul
kembali.
Hal ini
rasanya sangat aneh bagi saya, iya sebab biasanya saya selalu berhasil mengalihkan
segala pikiran dan kesemrawutan hati, hanya dengan membaca. Iya, bahkan
biasanya, saya merasa terlahir kembali dan lebih fresh ketika berhasil melahap buku-buku tersebut. Ya, namun kini
saya tidak berhasil mengalihkannya. Saya-pun kembali berpikir mungkin ada yang
salah dalam pola membaca saya. Iya, mungkin saya yang kurang fokus, atau
mungkin saya terlalu lama dalam menghabiskan satu-persatu buku-buku tersebut.
Entahlah namun kini saya memilih untuk mencari lagi buku pengganti dan berusaha
untuk fokus membacanya, menghayatinya, dan memasukkannya dalam qalbu. Nah untuk
buku yang seperti ini, rasanya hanya buku rohani yang dapat mengcovernya.
Kembali saya cari daftar buku yang ada dikamar, hingga akhirnya bertemulah
dengan buku karangan Amru Khalid, yang berjudul “Ibadah Sepenuh Hati”.
Pikiran
utama yang muncul ketika melihat judul buku ini adalah, ehm sepertinya judul
ini terlalu berat. Tapi baiklah saya coba membacanya, toh tidak ada salahnya
ungkap dalam hati. Lembar-demi lembarpun berhasil saya baca dengan sangat lama.
Iya, tidak biasanya saya begitu lama dalam membaca lembar-perlembarnya. Tapi jujur,
lembar-perlembar kalimat yang ada didalam buku ini berhasil membius perhatian
saya dan begitu menyindir saya. Iya, membuat
hati ini rasanya ditusuk oleh ribuan anak panah. Memporak-porandakan otak dan
pikiran saya hanya untuk fokus membacanya. Hanya untuk fokus me-recall segala tindak-tanduk diri.
Iya, sebegitu dalam maknanya. Hingga sampailah saya pada pembahasan “Trilogi
Hati”. Jujur bab ini begitu melumpuhkan semua kekuatan diri. Begitu membuat
diri ini merasa malu, kecil, kotor dan sangat jauh dari diriNya. Itulah beberapa
perasaan yang saya rasakan ketika membaca kalimat per kalimat berikut ini:
Trilogi
Ibnul Qayyim: Penyakit dan Obatnya
Ibnu Qayyim
mengatakan, “Sesungguhnya dalam hati
terdapat sebuah sobekan yang tidak bisa dijait kecuali dengan menghadap penuh
kepada Allah ta’ala. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tidak mampu
diobati kecuali dengan menyendiri bersamaNya. Di dalam hati juga ada sebuah
kesedihan yang tidak akan mampu dihilangkan kecuali oleh kebahagiaan yang
tumbuh karena mengenalNya dan ketulusan berinteraksi dengan-Nya. Di dalam hati
juga ada sebuah kegelisahan yang tidak akan mampu ditenangkan kecuali dengan
berhimpun karena Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju Allah. Di dalam
hati juga, terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali oleh
keridhaan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah yang diiringi dengan
ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan denganNya”.
Baca dan
perhatikan baik-baik kalimat tersebut. Coba renungkan dan resapi, semoga anda
merasa tersetuh olehNya. Semoga anda merasakan apa yang saya rasakan paska
membacanya. Semoga hati anda terketuk oleh kehadiraNya.
Iya, kalimat
tersebut begitu membius perhatian saya. Mari kembali kita baca secara perlahan “Di dalam hati ada sebuah sobekan,
keterasingan, kesedihan, kegelisahan, dan gejolak api… Ada beragam penyakit yang obatnya itu hanya
satu, dan terkadang justru kita lupakan atau bahkan kita kesampingkan. Iya,
yaitu hanya dengan “Mengenal Allah”. Hanya dengan Mengenal-Nya,
Membersamai-Nya, dan MenjadikanNya yang utama dalam hidup kita. Persis seperti
yang tertuang dalam surat Ar-Rad Ayat 28: “Dan
hanya dengan mengingatnya hati menjadi tentram”.
Dan
ternyataaaaa, Se-simple itu loh obatnya. Iya, segampang itu. Namun sayang, jiwa
ini terkadang terlalu tertutup untuk menyadarinya. Dan iya, saya jadi malu sendiri. Begitu malu karena telah menutup
rapat-rapat pintu untuk bersama denganNya. Begitu malu karena terlalu
mendewakan hal-hal yang sifatnya fana. Dan iya, mungkin inilah jawaban atas
perasaan yang sedang menghinggapi diri ini. Alhamdulilah selang membacanya,
saya-pun merasa begitu tenang, damai. Ehm, ternyata sesuatu yang selama ini
saya cari, sesuatu yang selama ini saya risaukan itu karena kegagalan saya
mengutamakanNya dalam perjalanan hidup ini. Kegagalan saya bersama denganNya
dalam setiap rentetan aktivitas hidup ini. Sebegitu sibuknya jiwa ini, hingga
terlupa bahwa Dia begitu merindukan saya. Bahwa Dia ingin mendengar suara-suara
kekasihnya. Dan jujur, saya begitu merasa bahagia karena telah berhasil menemukan
jawaban teka-teki ini. Aaah, terimakasih tuhan!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar