Jumat, 02 Oktober 2015

Penyakit Hati



Akhir-akhir ini entah kenapa ngerasa ada sesuatu yang hilang, tapi tidak tahu itu apa. Segala sesuatu sudah dicoba untuk mendapatkan jawaban tersebut, mulai dari merecall memory, me-list  ini-itu tapi sayang masih belum ketemu sesuatu yang hilang tersebut. Masih belum berhasil juga menemukan penyebab utama kenapa merasakan hal ini. Setiap harinya, jujur masih penasarasan sama apa yang sebenarnya terjadi dengan diri ini. Saya-pun terus berusaha mencari penyebabnya, namun sayang tak kunjung dapat jawaban *tsaah bahasanya saa.. ekeke*.  Sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk ambi baca buku, iya seperti apa yang diungkapkan oleh Maryanne Wolf bahwa dengan membaca buku mampu mengalihkan segalanya. Mulai dari dari mengurangi stress, meningkatkan konsentrasi, membangun rasa percaya diri, dan berpikir kritis. Iya disaat membaca mampu membuat otak kita untuk fokus menciptakan gambaran, bercerita, dan mengalihkan segala gundah ataupun permasalahan yang dirasa dengan fokus untuk mengikuti alur ceritanya. Bagi saya-pun buku adalah senjata utama untuk mengalihkan keadaan ini. Untuk bisa terbebas dari segala belenggu ini.



Mulai melihat daftar bacaan yang ada dikamar, lihat beberapa list beberapa judul buku yang dirasa dapat mengusir perasaan aneh ini. Yap, mulai dari novel picisan, pengembangan diri, parenting. Iya, semuanya sudah selesai saya baca. Semuanya bahkan telah selesai saya review dalam beberapa tulisan pendek. Namun sayangnya, keberhasilan saya dalam merampungkan seluruh buku-buku tersebut belum mampu mengusir perasaan aneh yang ada pada diri ini. Entah kenapa sehabis melahap buku 1,2, perasaan saya berhasil tenang. Namun selang beberapa jam, saya kembali merasakan sesuatu yang hilang, dan perasaan aneh itupun muncul kembali.

Hal ini rasanya sangat aneh bagi saya, iya sebab biasanya saya selalu berhasil mengalihkan segala pikiran dan kesemrawutan hati, hanya dengan membaca. Iya, bahkan biasanya, saya merasa terlahir kembali dan lebih fresh ketika berhasil melahap buku-buku tersebut. Ya, namun kini saya tidak berhasil mengalihkannya. Saya-pun kembali berpikir mungkin ada yang salah dalam pola membaca saya. Iya, mungkin saya yang kurang fokus, atau mungkin saya terlalu lama dalam menghabiskan satu-persatu buku-buku tersebut. Entahlah namun kini saya memilih untuk mencari lagi buku pengganti dan berusaha untuk fokus membacanya, menghayatinya, dan memasukkannya dalam qalbu. Nah untuk buku yang seperti ini, rasanya hanya buku rohani yang dapat mengcovernya. Kembali saya cari daftar buku yang ada dikamar, hingga akhirnya bertemulah dengan buku karangan Amru Khalid, yang berjudul “Ibadah Sepenuh Hati”.



Pikiran utama yang muncul ketika melihat judul buku ini adalah, ehm sepertinya judul ini terlalu berat. Tapi baiklah saya coba membacanya, toh tidak ada salahnya ungkap dalam hati. Lembar-demi lembarpun berhasil saya baca dengan sangat lama. Iya, tidak biasanya saya begitu lama dalam membaca lembar-perlembarnya. Tapi jujur, lembar-perlembar kalimat yang ada didalam buku ini berhasil membius perhatian saya dan  begitu menyindir saya. Iya, membuat hati ini rasanya ditusuk oleh ribuan anak panah. Memporak-porandakan otak dan pikiran saya hanya untuk fokus membacanya. Hanya untuk fokus me-recall segala tindak-tanduk diri. Iya, sebegitu dalam maknanya. Hingga sampailah saya pada pembahasan “Trilogi Hati”. Jujur bab ini begitu melumpuhkan semua kekuatan diri. Begitu membuat diri ini merasa malu, kecil, kotor dan sangat jauh dari diriNya. Itulah beberapa perasaan yang saya rasakan ketika membaca kalimat per kalimat berikut ini:

Trilogi Ibnul Qayyim: Penyakit dan Obatnya

Ibnu Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah sobekan yang tidak bisa dijait kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah ta’ala. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tidak mampu diobati kecuali dengan menyendiri bersamaNya. Di dalam hati juga ada sebuah kesedihan yang tidak akan mampu dihilangkan kecuali oleh kebahagiaan yang tumbuh karena mengenalNya dan ketulusan berinteraksi dengan-Nya. Di dalam hati juga ada sebuah kegelisahan yang tidak akan mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun karena Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju Allah. Di dalam hati juga, terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali oleh keridhaan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan denganNya”.

Baca dan perhatikan baik-baik kalimat tersebut. Coba renungkan dan resapi, semoga anda merasa tersetuh olehNya. Semoga anda merasakan apa yang saya rasakan paska membacanya. Semoga hati anda terketuk oleh kehadiraNya.

Iya, kalimat tersebut begitu membius perhatian saya. Mari kembali kita baca secara perlahan “Di dalam hati ada sebuah sobekan, keterasingan, kesedihan, kegelisahan, dan gejolak api…  Ada beragam penyakit yang obatnya itu hanya satu, dan terkadang justru kita lupakan atau bahkan kita kesampingkan. Iya, yaitu hanya dengan “Mengenal Allah”. Hanya dengan Mengenal-Nya, Membersamai-Nya, dan MenjadikanNya yang utama dalam hidup kita. Persis seperti yang tertuang dalam surat Ar-Rad Ayat 28: “Dan hanya dengan mengingatnya hati menjadi tentram”.


Dan ternyataaaaa, Se-simple itu loh obatnya. Iya, segampang itu. Namun sayang, jiwa ini terkadang terlalu tertutup untuk menyadarinya. Dan iya, saya jadi malu  sendiri. Begitu malu karena telah menutup rapat-rapat pintu untuk bersama denganNya. Begitu malu karena terlalu mendewakan hal-hal yang sifatnya fana. Dan iya, mungkin inilah jawaban atas perasaan yang sedang menghinggapi diri ini. Alhamdulilah selang membacanya, saya-pun merasa begitu tenang, damai. Ehm, ternyata sesuatu yang selama ini saya cari, sesuatu yang selama ini saya risaukan itu karena kegagalan saya mengutamakanNya dalam perjalanan hidup ini. Kegagalan saya bersama denganNya dalam setiap rentetan aktivitas hidup ini. Sebegitu sibuknya jiwa ini, hingga terlupa bahwa Dia begitu merindukan saya. Bahwa Dia ingin mendengar suara-suara kekasihnya. Dan jujur, saya begitu merasa bahagia karena telah berhasil menemukan jawaban teka-teki ini. Aaah, terimakasih tuhan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar