Sabtu, 13 Februari 2016

Masihkah mereka bagian dari kita?


Masa lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan semua keterbatasannya pasti akan dialami oleh seseorang apabila ia panjang umur. Proses menua atau aging adalah suatu proses alami yang terjadi pada semua mahluk hidup. Laslett dkk mengungkapkan bahwa menjadi tua (aging) merupakan proses perubahan biologis secara terus-menerus yang dialami manusia pada semua tingkatan umur dan waktu.
Namun sayangnya pencapaian tersebut kini tidak lagi dianggap sebagai suatu anugrah yang patut dijaga. Ada yang menganggap hadirnya para lanjut usia justru semakin menyulitkan mereka. Mereka mengganggap para lanjut usia hanya-lah beban, ditambah dengan berbagai pembawaan sifat tuanya seperti pemarah, emosinal, dsbnya yang justru menghambat aktivitas mereka. Bahkan tidak jarang anak muda saat ini menganggap para lanjut usia adalah orang yang kolot dan tidak tahu perubahan jaman. 

Dari 14 dari 20 mahasiswa yang pernah saya tanyakan mengenai “apakah yang terlintas dibenak anda ketika mendengar kata lanjut usia”. Muncul jawaban beragam, yang kesemuanya itu mengarah pada stereotype atau citra diri negatif pada lanjut usia seperti berikut ini:
  1. Sakit-sakitan
  2. Murung
  3. Sensitif
  4. Bawel
  5. Pikun
  6. Kesepian
  7. Emosional
Dari semua hal yang disebutkan oleh para mahasiswa ini sebenarnya tidak ada yang salah, karena memang berbagai hal tersebut adalah hal yang wajar dialami ketika seseorang memasuki masa lanjut usia. Akan tetapi ada satu hal yang perlu diluruskan dalam memahami permasalahan ini. Bahwa pada dasarnya berbagai strereotype yang melekat pada diri seorang lanjut usia tersebut bukanlah sebuah stereotype atau citra negatif mereka. Melainkan memang sebuah perubahan alamiah yang muncul ketika seseorang memasuki masa lanjut usia.
Selain itu, perbedaan rentang umur yang cukup jauh antara yang muda (cucu) dan yang tua mengakibatkan terjadinya distorsi nilai yang mengakibatkan cara pandang dalam memaknai mereka berbeda. Seperti contohnya sang cucu yang ketika bermain kerumah neneknya dan disaat kumpul bersama diruang keluarga lebih memilih channel tv yang berisikan musik terkini, sedangkan nenek atau kakek malah mengantinya dengan channel tv yang berbau dangdut. Terjadinya hal ini tak jarang memunculkan perbedaan cara pandang dari para cucu, yang menganggap sang nenek itu tidak gaul, yang mengakibatkan mereka enggan untuk bersama dengan sang nenek karena atau di tahapan yang lebih lanjut lagi menganggap sang nenek banyak aturan. Karena misalnya melarang untuk mengikuti style rambut masa kini untuk diwarna-warnai atau sekedar tidak boleh keluar malam, dan berbagai sifat emosionalnya yang mewarnai dalam berbicara dan bertindak ketika keinginannya tidak diikuti.
Terjadinya berbagai perubahan pada lanjut usia inilah yang saat ini perlu dijadikan perhatian oleh para kaum muda maupun para orangtua. Bahwa pada dasarnya perubahan yang terjadi pada para lanjut usia merupakan hal yang alamiah terjadi. Secara umum  Hurlock (2007) mengelompokan 3 perubahan alamiah yang akan dialami oleh seseorang ketika memasuki masa dewasa akhir (lanjut usia), mulai dari:
1. Perubahan pada aspek fisik
     Perubahan pada aspek fisik merupakan perubahan terbesar yang terjadi pada kelompok usia ini. Adapun berbagai perubahan tersebut terdiri dari beberapa hal, seperti pada penampilannya yang ditandai rambut yang menipis dan berubah menjadi abu-abu, pipi berkerut, bentuk mulut yang berubah akibat hilangnya gigi, dsbnya. Kemudian, perubahan pada fungsi fisiologisnya yang ditandai dengan tidak tahan terhadap temperature yang sangat panas atau sangat dingin dan terjadi penurunan dalam jumlah waktu tidurnya. Disamping itu orang usia lanjut memerlukan waktu yang relatif lama dalam memulihkan tenaganya ketika terjadi kelelahan fisik maupun mental. 

 Selanjutnya adalah perubahan panca indera. Memasuki masa usia ditandai dengan kurang sensitivitasnya fungsi organ-organ penginderaan  seperti mata yang mulai kabur dalam melihat, pendengaran yang kurang, indera pengecapan yang mulai tidak sensitif lagi terhadap merasai dan juga cara bekerja yang mulai melamban.

2. Perubahan pada Aspek Sosial
Memasuki masa tua ditandai dengan berkurangnya kontak sosial, baik dengan anggota keluarga, masyarakat maupun teman kerja. Terjadinya perubahan stuktur keluarga dari yang keluarga luas (extended family) ke keluarga inti (nuclear family) juga akan mengurangi kontak sosial pada para lanjut usia.
Selain itu juga, kalaupun lanjut usianya masih memiliki semangat untuk dapat menjalin silahturahmi baik dengan temen sebaya atau para kerabatnya. Mereka terbatasi oleh perubahan fisik yang terjadi pada diri mereka, yang mengakibatkan mereka kesulitan untuk tetap menjalin hubungan social tersebut. Kalaupun mereka tetap ingin mengunjungi kolega atau kerabatnya mereka membutuhkan peran orang lain untuk dapat mengantarkan mereka.
Kondisi ini sering diistilahkan dengan social disengagement, yaitu proses pengunduran diri yang terjadi pada masa lanjut usia dari lingkungannya. Adapun aktivitas terjadinya social disengagement ini ditandai dengan beberapa hal, mulai dari: keterlibatan dengan orang lain berkurang, pengurangan peranan social dimasyarakat, dan berkurangnya partisipasi dalam kegiatan fisik. Kurangnya kontak sosial ini menimbulkan perasaan kesepian, murung, yang berdampak pada kebahagiaan lanjut usia tersebut (Noorkasiani, 2009).
Belum lagi ditambah perubahan sistem nilai sosial yang terjadi pada saat ini yang menuju masyarakat individualistic. Disadari atau tidak hal ini juga berpengaruh bagi kehidupan para lanjut usia yang membuat mereka kurang mendapatkan perhatian, bahkan beberapa dari mereka ada yang sampai tersisih dari kehidupan masyarakat dan terlantar. Permasalahan inipun dapat berakibat pada kesendirian atau isolasi sosial yang dirasakan oleh lanjut usia.

  1. Perubahan pada Aspek Psikologis
            Pada intinya perubahan pada aspek psikologis ini juga merupakan dampak dari perubahan social yang terjadi pada diri lansia. Seperti mulai berkurangnya kontak social mereka terhadap teman sejawatnya, lingkungan, dsbnya. Ditambah lagi dengan perasaan kehilangan, karena rekan-rekan sejawatnya bukannya sudah sulit untuk ditemui saja. Akan tetapi juga beberapa dari mereka ada yang sudah meninggal dunia.
            Keadaan ini akan menimbulkan perasaan sedih bagi para lanjut usia tersebut. Belum lagi juga masa kehilangan pasangan yang kadang sangat mempengaruhi kondisi psikologis para lanjut usia ini. Secara teori masa kehilangan pasangan, merupakan masa terberat yang harus dihadapi oleh diri lansia. Disaat mereka kehilangan pasangan hidupnya banyak mereka yang sudah tidak mempunyai semangat lagi untuk menjalani kehidupannya. Mereka merasa hanya seorang diri menjalani kehidupan ini. Pasalnya anak mereka kadang sibuk, cucu jarang mengunjungi dsbnya.
            Bahkan ketika memasuki masa seperti ini banyak diantara para lanjut usia yang tidak hanya diserang kesepian akut (the emptiness syndrome) akan tetapi juga depresi.  Sejalan dengan hal ini Corney mengungkapkan bahwa depresi merupakan permasalahan kedua yang banyak terjadi pada lansia selain kesehatan. Aspek emosional yang terganggu, pada mereka, seperti kecemasan, stress berat, dan depresi secara tidak langsung mengakibatkan gangguan terhadap kesehatan fisik mereka. 

            Kondisi-kondisi seperti inilah yang seharusnya menjadi perhatian kita semua untuk lebih aware lagi terhadap mereka. Lebih peduli lagi pada mereka, serta mulai belajar dan mengusahakan untuk meluangkan waktu bersama dengan mereka, bukan memberikan sisa waktu dari kesibukan kita.
            Selain itu, memasuki masa lanjut usia secara psikologis akan terjadi perubahan minat dan keinginan pada mereka yang tidak dapat dihindari. Perubahan inilah yang menyebabkan mereka menjadi sangat berorientasi terhadap egonya (egocentric) dan pada dirinya (self-centred). Dimana mereka lebih banyak berfikir tentang dirinya dari pada orang lain dan kurang memperhatikan keinginan dan kehendak orang lain. Kondisi ini pula yang kadang salah kaprah diterjemahkan oleh masyarakat sebagai sifat utama dari lanjut usia seperti pemarah, sensitive atau bahkan terlalu emosinal. Yang terkadang menyebabkan terjadinya jarak diantara mereka. Para anak muda, cucu atau bahkan anak lanjut memilih untuk menjaga jarak terhadap para lanjut usia, dari pada berada disekitar mereka yang memiliki perubahan kondisi tersebut.
             Hal inilah yang perlu kita antisipasi sejak awal. Perlunya pemahaman pada anak, cucu ataupun masyarakat umum bahwa pada dasarnya berbagai perubahan yang terjadi pada diri lanjut usia tersebut, mulai dari aspek biologis, social dan psikologis merupakan perubahan alamiah, yang tentu nantinya juga akan kita alami ketika memasuki masa tersebut. Kalau pun saja mereka bisa memilih ingin mengalaminya atau tidak,  tentunya mereka akan memilih untuk tetap sehat, bugar dan juga dapat beraktivitas biasa seperti masa mudanya.
            Maka tidak seharusnya lagi kita mengasingkan mereka dan menganggap mereka menyebalkan. Luangkan waktu kita untuk bersama mereka. Banyak pelajaran hidup yang dapat kita ambil pada diri mereka. Mulai dari bagaimana mereka bisa memaknai hidup, sukses dan masih bisa sehat bugar diusia senjanya. Atau bahkan belajar tentang resep masakan yang saat ini sudah mulai kita tinggalkan, seperti ongol-ongol, rendang, dan makanan tradisional lainnya.  
            Warisan budaya terbaik, ya mereka-lah satu-satunya saksi hidup sejarah keluarga kita atau bahkan sejarah bangsa kita. Mereka tahu tentang bagaimana kebudayaan minang berkembang, tentang alasan orang minang merantau, dan alasan budaya membeli kaum adam pada laki-laki dan sejarah lainnya.       
           
            Dan masihkan kita enggan untuk bersama mereka? Padahal banyak hal yang dapat kita gali dari mereka, sementara waktu mereka tidak banyak.
           
            Masih ingat, kapan terakhir kali kita mengunjunginya? Satu bulan yang lalu, tiga bulan yang lalu, atau bahkan tahun lalu?

            Dan masihkan mereka bagian dari kita, sementara jatah waktu yang kita miliki saja tidak rela untuk kita habiskan bersama mereka.