Minggu, 27 September 2015

Pernikahan..


Sekilas disaat mendengar kata tersebut, hal yang sering terbanyang dibenak kita adalah sebuah moment sakral. Sebuah moment yang terjalin antara dua hati dan dua kepala dalam pertalian agama. Sebuah moment pengikat dua keluarga. Sebuah moment yang dipercaya sebagai penerus generasi peradaban ini. Juga moment dimana sang Ayah melepas ikatan tanggung jawab yang diemban selama belasan tahun terhadap putrinya kepada si calon pendamping hidup, suami, sahabat dunia akhirat sang putri. Terdengar indah bukan?

Tahukah kamu, bahkan sangking indahnya moment ini para Malaikat dan penduduk Arsy-pun ikut bersimpuh menyaksikan moment sakral tersebut. Menjadi saksi atas cinta suci yang terjalin dalam dua insan tersebut. Merayakan hari tersebut dengan penuh suka cita dan mengiringinya dengan lantunan doa-doa indah menjuntai pintu langit, untuk sebuah keluarga baru. Untuk pasangan yang Allah amanahkan sebagai penerus peradaban. Terbayangkan, betapa sakralnya dihari itu.

Sekali lagi, baca perlahan dan renungkan. Tidak hanya disaksikan oleh seluruh keluarga dan kerabat. Akan tetapi juga oleh bumi, langit, malaikat dan seluruh penduduk Arsy-pun turut hadir. Menjadi saksi moment sakral tersebut (read: akad nikah).


Menarik bukan? Namun dari hal ini, ada satu hal yang sangat perlu diingat. Iya, bahwa perjanjian yang terdapat dalam moment sakral tersebut (read: akad nikah) bukanlah sebuah ucapan kosong yang miskin tanggung jawab dan hanya penuh dengan kesenangan semata. Ketahuilah, bahwa akad nikah merupakan perjanjian yang sangat berat. Bahkan sangking beratnya Allah menggolongkan hal tersebut sebagai “Mitsaqan ghalizha” (read:perjanjian yang berat).

Dari seluruh perjanjian antara Allah dengan makhluknya, hanya tiga yang disebut sebagai “Mitsaqan Ghalizha”. Pertama disaat perjanjian Allah dengan Bani Israil, kedua tentang perjanjian dengan para utusan-Nya (read: para nabi-nabi Allah) dan ketiga disaat moment akad nikah berlangsung. Sebegitu kuatnya perjanjian yang terdapat dalam akad nikah juga tertuang dalam salah satu surahnya. Allah berfirman:

“Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”. (An Nisa’:21) yaitu akad (perjanjian) yang mengharuskan bagi pasangan suami istri untuk melaksanakan janjinya.

Dari hal tersebut perlu dipahami, bahwa akad nikah adalah perjanjian yang sangat berat, Allahpun menyebutnya dengan “Mitsaqan Ghalizha”. Maka itulah sebabnya, jika suatu saat nanti akad tersebut putus, maka ‘Arsy Allah akan berguncang sebegitu dahsyatnya. Setan-setan-pun akan berpesta ria mendengar hal tersebut. Nauuzubilah himindzalik. Semoga Allah melindungi diri kita dan semoga kita dijauhkan dari hal tersebut. 

Sebegitu beratnya perjanjian yang terkandung dalam akad nikah. Sudah selayaknya menyadarkan kita, bahwa untuk memasuki masa tersebut membutuhkan persiapan. Membutuhkan kemantapan lahir dan bathin. Membutuhkan tekat kuat untuk mengarunginya. Ingatlah moment menikah bukan lagi berbicara mengenai kehendak diri, dan merasa dihargai ketika keinginan diri terpenuhi. Bukan pula sekedar ada yang menemani dalam segala aktivitas. Akan tetapi lebih jauh dari itu. 

Berbicara mengenai meruntuhkan ego pribadi dan menggantinya dengan kebahagiaan bersama. Berbicara mengenai rasa saling menghargai dan menghormati. Berbicara mengenai komitmen dan visi bersama. Berbicara juga mengenai sebuah kepercayaan, bibit utama yang harus selalu dipupuk seiring berjalannya waktu pernikahan. Lengkap dengan paket saling menghargai, menghormati, dan mempertahankan kualitas cinta yang ada.

Ketika seluruh amunisi dirasa sudah cukup, barulah mulai menata dirimu, memasuki moment sakralmu. Ingatlah juga bahwa moment ini hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Gamau dong kita gagal atau salah langkah dalam menapakinya? Maka persiapkan dirimu dengan baik. Matangkanlah dirimu, tempa-lah dirimu. Lakukan segala macam cara yang mendukungmu kearah sana. Ingat juga bahwa kelak ditangan kalianlah generasi madaniah tercipta. 

Maka tidak salah jika kalian sudah mulai mempersiapkannya diawal. Mempersiapkan untuk menjadi Ayah dan Bunda terbaik bagi anak kalian. Menjadi Ayah dan Bunda yang sudah siap ketika Dia menitipkan rejekinya kepadamu. Ini penting loh. Banget! Sedikit cerita aja nih ya. Belakangan ini saya sering ketemu pasangan muda yang membawa anak batita tapi emosi mereka sangat sulit terkontrol. Iya, entah pertengkaran apa yang melatari mereka. Entah ego apa yang merusak kebersamaan mereka. Akan tetapi anak selalu menjadi korban atas ketidakdewasaan para orang tua mereka. Cacian, kata-kata kasar, bahkan pukulan kerap kali melayang dari tangan orang tua tersebut sebagai salah satu media memenangkan tantrum anak. Sedih kaan! Yang sedihnya lagi ternyata bukan satu, dua para orang tua yang melakukan demikian. Tapi banyaaaak! Bahkan pola asuh yang demikian sudah mendarah daging dari para orang tua.

Padahal dari apa yang dilakukan oleh orang tua tersebut akan sangat berdampak terhadap perkembangan sang anak loh. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lise Gilliot  menunjukan ketika seorang anak  mendengar sebuah suara keras dan bentakan kasar dari orang tuanya, maka disaat itu juga 10 milyar sel otak yang sedang bertumbuh terbunuh. Iya, satu bentakan atau makian yang orang tua lontarkan terhadap anaknya, mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Nah loh itu baru bentakannya aja loh. Belum lagi cubitan-cubitan melayang, pukulan-pukulan, lempar ini itu, dan sebagainya. Sediiih bangeet kan?


Iya, sedih. Ternyata perjanjian yang Allah golongkan sebagai Mitsaqan Ghalizha belum menjadi alasan kuat untuk mempersiapkan diri lahir dan bathin mengarungi bahtera. Sedih, ternyata moment sakral yang disaksiin sama keluarga, kerabat, malaikat dan penduduk Arsy itu pun belum menjadi alasan kuat dalam menghargai titipanNya. Sedih juga, jarena ternyata cinta suci yang menaungi dua insan tersebut belum menjadi alasan kuat dalam menggapai ridhoNya. Hiks. gamau kan seperti itu. Iya, semoga apa yang terjadi dilingkungan sekitar kita ini semakin menyadari diri ini untuk tidak berperilaku demikian terhadap anak. Dan semoga juga membuat kita lebih semangat untuk mempersiapkan moment indah tersebut dengan bekal yang cukup! Aamiin