Sekilas disaat
mendengar kata tersebut, hal yang sering terbanyang dibenak kita adalah sebuah
moment sakral. Sebuah moment yang terjalin antara dua hati dan dua kepala dalam
pertalian agama. Sebuah moment pengikat dua keluarga. Sebuah moment yang dipercaya
sebagai penerus generasi peradaban ini. Juga moment dimana sang Ayah melepas
ikatan tanggung jawab yang diemban selama belasan tahun terhadap putrinya
kepada si calon pendamping hidup, suami, sahabat dunia akhirat sang putri.
Terdengar indah bukan?
Tahukah kamu,
bahkan sangking indahnya moment ini para Malaikat dan penduduk Arsy-pun ikut
bersimpuh menyaksikan moment sakral tersebut. Menjadi saksi atas cinta suci yang
terjalin dalam dua insan tersebut. Merayakan hari tersebut dengan penuh suka
cita dan mengiringinya dengan lantunan doa-doa indah menjuntai pintu langit,
untuk sebuah keluarga baru. Untuk pasangan yang Allah amanahkan sebagai penerus
peradaban. Terbayangkan, betapa sakralnya dihari itu.
Sekali lagi,
baca perlahan dan renungkan. Tidak hanya disaksikan oleh seluruh keluarga dan
kerabat. Akan tetapi juga oleh bumi, langit, malaikat dan seluruh penduduk Arsy-pun
turut hadir. Menjadi saksi moment sakral tersebut (read: akad nikah).
Menarik bukan?
Namun dari hal ini, ada satu hal yang sangat perlu diingat. Iya, bahwa
perjanjian yang terdapat dalam moment sakral tersebut (read: akad nikah) bukanlah
sebuah ucapan kosong yang miskin tanggung jawab dan hanya penuh dengan
kesenangan semata. Ketahuilah, bahwa akad nikah merupakan perjanjian yang
sangat berat. Bahkan sangking beratnya Allah menggolongkan hal tersebut sebagai
“Mitsaqan ghalizha” (read:perjanjian yang berat).
Dari seluruh
perjanjian antara Allah dengan makhluknya, hanya tiga yang disebut sebagai
“Mitsaqan Ghalizha”. Pertama disaat perjanjian Allah dengan Bani Israil, kedua tentang
perjanjian dengan para utusan-Nya (read: para nabi-nabi Allah) dan ketiga disaat
moment akad nikah berlangsung. Sebegitu kuatnya perjanjian yang terdapat dalam
akad nikah juga tertuang dalam salah satu surahnya. Allah berfirman:
“Dan mereka
(isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”. (An Nisa’:21)
yaitu akad (perjanjian) yang mengharuskan bagi pasangan suami istri untuk
melaksanakan janjinya.
Dari hal tersebut
perlu dipahami, bahwa akad nikah adalah perjanjian yang sangat berat, Allahpun menyebutnya dengan “Mitsaqan Ghalizha”. Maka itulah sebabnya, jika suatu saat nanti akad
tersebut putus, maka ‘Arsy Allah akan berguncang sebegitu dahsyatnya. Setan-setan-pun
akan berpesta ria mendengar hal tersebut. Nauuzubilah himindzalik. Semoga Allah
melindungi diri kita dan semoga kita dijauhkan dari hal tersebut.
Sebegitu
beratnya perjanjian yang terkandung dalam akad nikah. Sudah selayaknya
menyadarkan kita, bahwa untuk memasuki masa tersebut membutuhkan persiapan.
Membutuhkan kemantapan lahir dan bathin. Membutuhkan tekat kuat untuk
mengarunginya. Ingatlah moment
menikah bukan lagi berbicara mengenai kehendak diri, dan merasa dihargai ketika
keinginan diri terpenuhi. Bukan pula sekedar ada yang menemani dalam segala aktivitas.
Akan tetapi lebih jauh dari itu.
Berbicara mengenai meruntuhkan ego pribadi dan
menggantinya dengan kebahagiaan bersama. Berbicara mengenai rasa saling
menghargai dan menghormati. Berbicara mengenai komitmen dan visi bersama. Berbicara
juga mengenai sebuah kepercayaan, bibit utama yang harus selalu dipupuk seiring
berjalannya waktu pernikahan. Lengkap dengan paket saling menghargai,
menghormati, dan mempertahankan kualitas cinta yang ada.
Ketika seluruh
amunisi dirasa sudah cukup, barulah mulai menata dirimu, memasuki moment
sakralmu. Ingatlah juga bahwa moment ini hanya akan terjadi sekali seumur
hidup. Gamau dong kita gagal atau salah langkah dalam menapakinya? Maka
persiapkan dirimu dengan baik. Matangkanlah dirimu, tempa-lah dirimu. Lakukan
segala macam cara yang mendukungmu kearah sana. Ingat juga bahwa kelak ditangan
kalianlah generasi madaniah tercipta.
Maka tidak salah
jika kalian sudah mulai mempersiapkannya diawal. Mempersiapkan untuk menjadi
Ayah dan Bunda terbaik bagi anak kalian. Menjadi Ayah dan Bunda yang sudah siap
ketika Dia menitipkan rejekinya kepadamu. Ini penting loh. Banget! Sedikit cerita
aja nih ya. Belakangan ini
saya sering ketemu pasangan muda yang membawa anak batita tapi emosi mereka
sangat sulit terkontrol. Iya, entah pertengkaran apa yang melatari mereka.
Entah ego apa yang merusak kebersamaan mereka. Akan tetapi anak selalu menjadi
korban atas ketidakdewasaan para orang tua mereka. Cacian, kata-kata kasar,
bahkan pukulan kerap kali melayang dari tangan orang tua tersebut sebagai salah
satu media memenangkan tantrum anak. Sedih kaan! Yang sedihnya lagi ternyata
bukan satu, dua para orang tua yang melakukan demikian. Tapi banyaaaak! Bahkan pola
asuh yang demikian sudah mendarah daging dari para orang tua.
Padahal dari apa
yang dilakukan oleh orang tua tersebut akan sangat berdampak terhadap
perkembangan sang anak loh. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lise Gilliot menunjukan ketika seorang anak mendengar sebuah suara keras dan
bentakan kasar dari orang tuanya, maka disaat itu juga 10 milyar sel otak yang
sedang bertumbuh terbunuh. Iya, satu bentakan atau makian yang orang tua
lontarkan terhadap anaknya, mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat
itu juga. Nah loh itu baru bentakannya aja loh. Belum lagi cubitan-cubitan
melayang, pukulan-pukulan, lempar ini itu, dan sebagainya. Sediiih bangeet kan?
Iya, sedih.
Ternyata perjanjian yang Allah golongkan sebagai Mitsaqan Ghalizha belum
menjadi alasan kuat untuk mempersiapkan diri lahir dan bathin mengarungi
bahtera. Sedih, ternyata
moment sakral yang disaksiin sama keluarga, kerabat, malaikat dan penduduk Arsy
itu pun belum menjadi alasan kuat dalam menghargai titipanNya. Sedih juga, jarena ternyata cinta suci yang menaungi dua insan tersebut belum menjadi alasan kuat
dalam menggapai ridhoNya. Hiks. gamau kan seperti itu. Iya, semoga apa yang terjadi dilingkungan sekitar kita ini semakin menyadari diri ini untuk tidak berperilaku demikian terhadap anak. Dan semoga juga membuat kita lebih semangat untuk mempersiapkan moment indah tersebut dengan bekal yang cukup! Aamiin

