Sabtu, 13 Februari 2016

Masihkah mereka bagian dari kita?


Masa lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan semua keterbatasannya pasti akan dialami oleh seseorang apabila ia panjang umur. Proses menua atau aging adalah suatu proses alami yang terjadi pada semua mahluk hidup. Laslett dkk mengungkapkan bahwa menjadi tua (aging) merupakan proses perubahan biologis secara terus-menerus yang dialami manusia pada semua tingkatan umur dan waktu.
Namun sayangnya pencapaian tersebut kini tidak lagi dianggap sebagai suatu anugrah yang patut dijaga. Ada yang menganggap hadirnya para lanjut usia justru semakin menyulitkan mereka. Mereka mengganggap para lanjut usia hanya-lah beban, ditambah dengan berbagai pembawaan sifat tuanya seperti pemarah, emosinal, dsbnya yang justru menghambat aktivitas mereka. Bahkan tidak jarang anak muda saat ini menganggap para lanjut usia adalah orang yang kolot dan tidak tahu perubahan jaman. 

Dari 14 dari 20 mahasiswa yang pernah saya tanyakan mengenai “apakah yang terlintas dibenak anda ketika mendengar kata lanjut usia”. Muncul jawaban beragam, yang kesemuanya itu mengarah pada stereotype atau citra diri negatif pada lanjut usia seperti berikut ini:
  1. Sakit-sakitan
  2. Murung
  3. Sensitif
  4. Bawel
  5. Pikun
  6. Kesepian
  7. Emosional
Dari semua hal yang disebutkan oleh para mahasiswa ini sebenarnya tidak ada yang salah, karena memang berbagai hal tersebut adalah hal yang wajar dialami ketika seseorang memasuki masa lanjut usia. Akan tetapi ada satu hal yang perlu diluruskan dalam memahami permasalahan ini. Bahwa pada dasarnya berbagai strereotype yang melekat pada diri seorang lanjut usia tersebut bukanlah sebuah stereotype atau citra negatif mereka. Melainkan memang sebuah perubahan alamiah yang muncul ketika seseorang memasuki masa lanjut usia.
Selain itu, perbedaan rentang umur yang cukup jauh antara yang muda (cucu) dan yang tua mengakibatkan terjadinya distorsi nilai yang mengakibatkan cara pandang dalam memaknai mereka berbeda. Seperti contohnya sang cucu yang ketika bermain kerumah neneknya dan disaat kumpul bersama diruang keluarga lebih memilih channel tv yang berisikan musik terkini, sedangkan nenek atau kakek malah mengantinya dengan channel tv yang berbau dangdut. Terjadinya hal ini tak jarang memunculkan perbedaan cara pandang dari para cucu, yang menganggap sang nenek itu tidak gaul, yang mengakibatkan mereka enggan untuk bersama dengan sang nenek karena atau di tahapan yang lebih lanjut lagi menganggap sang nenek banyak aturan. Karena misalnya melarang untuk mengikuti style rambut masa kini untuk diwarna-warnai atau sekedar tidak boleh keluar malam, dan berbagai sifat emosionalnya yang mewarnai dalam berbicara dan bertindak ketika keinginannya tidak diikuti.
Terjadinya berbagai perubahan pada lanjut usia inilah yang saat ini perlu dijadikan perhatian oleh para kaum muda maupun para orangtua. Bahwa pada dasarnya perubahan yang terjadi pada para lanjut usia merupakan hal yang alamiah terjadi. Secara umum  Hurlock (2007) mengelompokan 3 perubahan alamiah yang akan dialami oleh seseorang ketika memasuki masa dewasa akhir (lanjut usia), mulai dari:
1. Perubahan pada aspek fisik
     Perubahan pada aspek fisik merupakan perubahan terbesar yang terjadi pada kelompok usia ini. Adapun berbagai perubahan tersebut terdiri dari beberapa hal, seperti pada penampilannya yang ditandai rambut yang menipis dan berubah menjadi abu-abu, pipi berkerut, bentuk mulut yang berubah akibat hilangnya gigi, dsbnya. Kemudian, perubahan pada fungsi fisiologisnya yang ditandai dengan tidak tahan terhadap temperature yang sangat panas atau sangat dingin dan terjadi penurunan dalam jumlah waktu tidurnya. Disamping itu orang usia lanjut memerlukan waktu yang relatif lama dalam memulihkan tenaganya ketika terjadi kelelahan fisik maupun mental. 

 Selanjutnya adalah perubahan panca indera. Memasuki masa usia ditandai dengan kurang sensitivitasnya fungsi organ-organ penginderaan  seperti mata yang mulai kabur dalam melihat, pendengaran yang kurang, indera pengecapan yang mulai tidak sensitif lagi terhadap merasai dan juga cara bekerja yang mulai melamban.

2. Perubahan pada Aspek Sosial
Memasuki masa tua ditandai dengan berkurangnya kontak sosial, baik dengan anggota keluarga, masyarakat maupun teman kerja. Terjadinya perubahan stuktur keluarga dari yang keluarga luas (extended family) ke keluarga inti (nuclear family) juga akan mengurangi kontak sosial pada para lanjut usia.
Selain itu juga, kalaupun lanjut usianya masih memiliki semangat untuk dapat menjalin silahturahmi baik dengan temen sebaya atau para kerabatnya. Mereka terbatasi oleh perubahan fisik yang terjadi pada diri mereka, yang mengakibatkan mereka kesulitan untuk tetap menjalin hubungan social tersebut. Kalaupun mereka tetap ingin mengunjungi kolega atau kerabatnya mereka membutuhkan peran orang lain untuk dapat mengantarkan mereka.
Kondisi ini sering diistilahkan dengan social disengagement, yaitu proses pengunduran diri yang terjadi pada masa lanjut usia dari lingkungannya. Adapun aktivitas terjadinya social disengagement ini ditandai dengan beberapa hal, mulai dari: keterlibatan dengan orang lain berkurang, pengurangan peranan social dimasyarakat, dan berkurangnya partisipasi dalam kegiatan fisik. Kurangnya kontak sosial ini menimbulkan perasaan kesepian, murung, yang berdampak pada kebahagiaan lanjut usia tersebut (Noorkasiani, 2009).
Belum lagi ditambah perubahan sistem nilai sosial yang terjadi pada saat ini yang menuju masyarakat individualistic. Disadari atau tidak hal ini juga berpengaruh bagi kehidupan para lanjut usia yang membuat mereka kurang mendapatkan perhatian, bahkan beberapa dari mereka ada yang sampai tersisih dari kehidupan masyarakat dan terlantar. Permasalahan inipun dapat berakibat pada kesendirian atau isolasi sosial yang dirasakan oleh lanjut usia.

  1. Perubahan pada Aspek Psikologis
            Pada intinya perubahan pada aspek psikologis ini juga merupakan dampak dari perubahan social yang terjadi pada diri lansia. Seperti mulai berkurangnya kontak social mereka terhadap teman sejawatnya, lingkungan, dsbnya. Ditambah lagi dengan perasaan kehilangan, karena rekan-rekan sejawatnya bukannya sudah sulit untuk ditemui saja. Akan tetapi juga beberapa dari mereka ada yang sudah meninggal dunia.
            Keadaan ini akan menimbulkan perasaan sedih bagi para lanjut usia tersebut. Belum lagi juga masa kehilangan pasangan yang kadang sangat mempengaruhi kondisi psikologis para lanjut usia ini. Secara teori masa kehilangan pasangan, merupakan masa terberat yang harus dihadapi oleh diri lansia. Disaat mereka kehilangan pasangan hidupnya banyak mereka yang sudah tidak mempunyai semangat lagi untuk menjalani kehidupannya. Mereka merasa hanya seorang diri menjalani kehidupan ini. Pasalnya anak mereka kadang sibuk, cucu jarang mengunjungi dsbnya.
            Bahkan ketika memasuki masa seperti ini banyak diantara para lanjut usia yang tidak hanya diserang kesepian akut (the emptiness syndrome) akan tetapi juga depresi.  Sejalan dengan hal ini Corney mengungkapkan bahwa depresi merupakan permasalahan kedua yang banyak terjadi pada lansia selain kesehatan. Aspek emosional yang terganggu, pada mereka, seperti kecemasan, stress berat, dan depresi secara tidak langsung mengakibatkan gangguan terhadap kesehatan fisik mereka. 

            Kondisi-kondisi seperti inilah yang seharusnya menjadi perhatian kita semua untuk lebih aware lagi terhadap mereka. Lebih peduli lagi pada mereka, serta mulai belajar dan mengusahakan untuk meluangkan waktu bersama dengan mereka, bukan memberikan sisa waktu dari kesibukan kita.
            Selain itu, memasuki masa lanjut usia secara psikologis akan terjadi perubahan minat dan keinginan pada mereka yang tidak dapat dihindari. Perubahan inilah yang menyebabkan mereka menjadi sangat berorientasi terhadap egonya (egocentric) dan pada dirinya (self-centred). Dimana mereka lebih banyak berfikir tentang dirinya dari pada orang lain dan kurang memperhatikan keinginan dan kehendak orang lain. Kondisi ini pula yang kadang salah kaprah diterjemahkan oleh masyarakat sebagai sifat utama dari lanjut usia seperti pemarah, sensitive atau bahkan terlalu emosinal. Yang terkadang menyebabkan terjadinya jarak diantara mereka. Para anak muda, cucu atau bahkan anak lanjut memilih untuk menjaga jarak terhadap para lanjut usia, dari pada berada disekitar mereka yang memiliki perubahan kondisi tersebut.
             Hal inilah yang perlu kita antisipasi sejak awal. Perlunya pemahaman pada anak, cucu ataupun masyarakat umum bahwa pada dasarnya berbagai perubahan yang terjadi pada diri lanjut usia tersebut, mulai dari aspek biologis, social dan psikologis merupakan perubahan alamiah, yang tentu nantinya juga akan kita alami ketika memasuki masa tersebut. Kalau pun saja mereka bisa memilih ingin mengalaminya atau tidak,  tentunya mereka akan memilih untuk tetap sehat, bugar dan juga dapat beraktivitas biasa seperti masa mudanya.
            Maka tidak seharusnya lagi kita mengasingkan mereka dan menganggap mereka menyebalkan. Luangkan waktu kita untuk bersama mereka. Banyak pelajaran hidup yang dapat kita ambil pada diri mereka. Mulai dari bagaimana mereka bisa memaknai hidup, sukses dan masih bisa sehat bugar diusia senjanya. Atau bahkan belajar tentang resep masakan yang saat ini sudah mulai kita tinggalkan, seperti ongol-ongol, rendang, dan makanan tradisional lainnya.  
            Warisan budaya terbaik, ya mereka-lah satu-satunya saksi hidup sejarah keluarga kita atau bahkan sejarah bangsa kita. Mereka tahu tentang bagaimana kebudayaan minang berkembang, tentang alasan orang minang merantau, dan alasan budaya membeli kaum adam pada laki-laki dan sejarah lainnya.       
           
            Dan masihkan kita enggan untuk bersama mereka? Padahal banyak hal yang dapat kita gali dari mereka, sementara waktu mereka tidak banyak.
           
            Masih ingat, kapan terakhir kali kita mengunjunginya? Satu bulan yang lalu, tiga bulan yang lalu, atau bahkan tahun lalu?

            Dan masihkan mereka bagian dari kita, sementara jatah waktu yang kita miliki saja tidak rela untuk kita habiskan bersama mereka.
           
           


Sabtu, 09 Januari 2016

Bidadari Tuhan di Bumi

Hi, udah lama gaknulis. Kali ini mau nulis tentang mama. Iya sosok bundadari yang kasihnya tidak perlu ditanya lagi, perhatiannya tanpa pamrih, matanya yang selalu berbinar bahagia,  senyumnya yang selalu membuncah tatkala menceritakan putrinya, dan bibirnya yang tak pernah lelah siang-malam mendoakan yang terbaik bagi putrinya..

Mama, Sosok yang paling setia nungguin putrinya ini dimeja makan untuk hanya memastikan semua makanan yang disendok masuk sempurna kedalam tubuh, dan menjadi asupan energi..

Mama, Sosok yang paling setia menunggu didepan rumah untuk memastikan anaknya sampai dengan aman. ..

Mama, Sosok yang tak pernah lelah menelfon tanpa henti. Bahkan sampai lebih puluhan kali, disaat putri kesayangannya belum tiba dirumah..

Mama, Sosok yang paling setia bangun paling awal dan tidur paling akhir hanya untuk memastikan semua kebutuhan putrinya terpenuhi..

Aaah, MAMA! YOU ARE MY WORLD FOR ME!




Iya, mendadak melow begini after merantau.. ehm, iya padahal ini masih merantau dibelahan Indonesia yang cuman beda sedikit letak aja. Apalagi kalo nanti jauuh beneraan. Hiks, balada anak bontot memang, yang sedari kecilnya enggak pernah jauh dari ketiak ibunya. Ya beginilah! HAHA.

Padahal dulu juga pisah sih pas kuliah, tapi mungkin dulu jaraknya belum sejauh ini kali yah. Dulu kan masih bisa pulang after 1 minggu atau 2 minggu kalo kangen. Sekarang, hiks beneran baru ngerasain, sekehilangan itu. Ngerasa kualat juga ini, jadi waktu jaman kuliah dulu ketika lagi ngumpul sama temen dan kebetulan playlist yang keputer itu adalah “Bunda”. Mendadak temen-temen saya itu langsung nangis dan minta buat lagunya dimatiin, karena gakkuat nahan rindu. Dititik itu mungkin saya belum merasakan, jadi malah cenderung ngeledekin itu temen dengan “cengeng”. HAHHA! Eh tapi sekarang saya juga terbukti sama, CENGENG juga! Hiks apalagi pas denger lagunya A Song For Mama versi Boyz Men. Aahhh rasanya mau pulang, mau peluk mama!



Hal simple yang kerasa ketika jauh dari mama itu adalah  ketika pulang kerumah, dan Mama selalu setia nungguin dan tidak sabaran denger ceria keseharian anaknya ini. Taraa! Terjadilah obrolan panjang kali lebar antara emak dan anak.. Iya segalanya diceritain, dari hal-hal yang standart sampe yang aneh-anehnya. Sedihnya baru terasa sekarang ternyata, tatkala hanya bisa cerita jarak jauh. Ehm, walaupun masih bisa tetep cerita sih, tapi rasanya beda banget.. Ngerasa ada moment yang hilang saja. Mungkin karena gak ngeliat langsung senyuman dan keceriaan mama kali yaah?. Iya, gak ngeliat langsung gaya ciri khas mama yang suka ngeledek putrinya ini dengan candaan penuh kasih sayang! Atau ketika hari itu begitu melelahkan yang cuman bisa diam-diam duduk dipangkuan mamah. Rasanya mau nangis dan cerita tapi lebih memilih untuk membisu. Karena gaktega, mamah pasti ikutan nangis kalo putrinya ini nangis atau sedih akan sesuatu hal. Eits tapi dengan duduk dipangkuannya saja udah lebih dari apapun kok, rasanya menenangkan. Semua beban terangkat!

Ditengah semua kesibukan ini juga baru engeh kalo sekarang udah umur segini. Kedepannya akan tiba saatnya juga untuk ninggalin mama demi kewajiban utama. Iya, cuman bisa berharap ketika moment itu tiba, diri ini tidak akan pernah berubah menjadi bidadari kecilnya. Tidak akan berubah menjauh darinya. Tidak akan pernah berkurang untuk mendapatkan pelukan dan rangkulan hangat darinya. Mama! Ehm, dan semoga sosok yang hadir kedepannya juga bakalan ngerasain power cintanya mamah, yang takpernah pupus sepanjang waktu!

Hei,
I Love You Mah
Anakmu 121215
11:41 PM



Minggu, 04 Oktober 2015

Muslimah Wonder Women


Setiap orang pastinya memiliki cara pandang atau penilaian tersendiri mengenai seseorang. Apalagi perihal perempuan. Iya, sekali melihatnya saja banyak sisi positif yang bisa digali terhadapnya. Sholehah, cerdas, cantik, ramah, dan masih banyak sisi lainnya yang melekat pada diri seorang perempuan. Jika kesemua sisi tersebut kita padukan jadi satu, mutlak sudah dia adalah seorang perempuan yang begitu sempurna. Well, apalagi jika pada diri seorang perempuan tersebut melekat satu kata lagi, yaitu “mandiri”. Sudah sangat dipastikan perempuan tersebut merupakan perempuan hebat, and maybe we can call her as wonder women.

Sosok perempuan seperti ini sebenarnya banyak bermunculan disekitaran kita. Terkadang hanya saja kita terfokus melihat dari sisi lainnya sehingga hal tersebut tertutupi dari sisi positif lainnya yang ada pada diri seorang perempuan. Namun ternyata, perempuan juga penting untuk menjadi pribadi yang mandiri. Coba kita kembali lihat sisi positif yang melekat pada diri perempuan cantik, sholehah, ramah, positif, cerdas. Tentunya akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi perempuan tersebut apabila dia dapat mandiri dalam kehidupannya. Mandiri disini berarti mencoba untuk tidak bergantung pada siapapun untuk mencukupi segala macam kebutuhan hidupnya dan selalu berusaha untuk meningkatkan kehidupannya lebih baik lagi. Perempuan yang mandiri selalu percaya bahwa rezeki itu sudah ditentukan oleh Allah sehingga selama dia mengusahakan yang terbaik, dia yakin Allah akan memberikan yang terbaik. Contoh yang paling bisa kita jadikan panutan yaitu Bunda Khadijah. Beliau adalah sosok yang sangat mulia dan tersohor karena kehebatan beliau dalam me-manage wirausahanya. Bahkan lewat bidang usaha yang digelutinya, beliau dapat membantu Nabi Muhammad SAW dalam menyiarkan agama islam ini.

Allah memang sangat menyukai para hamba-hambanya yang dapat mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Allah lebih menyukai hambanya yang tangannya berada diatas dari pada dibawah meminta-minta. Dalam surat An Najm ayat 39, Allah berfirman, “Seseorang tidak mendapatkan sesuatu kecuali apa yang telah diusahakannya.” Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari pun disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Niscayalah jikalau seseorang dari engkau semua itu mengambil tali-talinya-untuk mengikat-lalu ia datang di gunung, kemudian ia datang kembali di negerinya dengan membawa sebongkahan kayu bakar di atas punggungnya, lalu menjualnya kemudian dengan cara sedemikian itu Allah menahan wajahnya- yakni dicukupinya kebutuhannya, maka hal yang semacam itu adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta sesuatu pada orang-orang, baik mereka itu suka memberinya atau menolaknya.” Hadis dan ayat Al Qur’an ini menunjukkan bahwa mandiri adalah salah satu sifat seorang mukmin yang dicintai Allah.

Oleh karena itu, bagi para muslimah yang memilih untuk mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain, kita pantas untuk menyebutnya sebagai seorang Muslimah wonder women


Selain kisah Khadijah, kisah para wanita muslimah mandiri lainnya juga dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja nama muslimah tersebut adalah Mae. Mae adalah seorang muslimah yang berasal dari golongan menengah dan memiliki dua anak. Sayangnya ketika anak pertamanya menduduki bangku SMA, ujian Allah datang kepada Mae yaitu suaminya yang bermasalah. Singkat cerita permasalahan ini sudah tidak bisa lagi termaafkan karena suami Mae sudah berkali-kali melakukannya, dan Mae merasa tidak kuat lagi menanggung rasa sakit akan hal tersebut. Perceraian adalah jalan yang diambil Mae pada saat itu.

Keputusan Mae ini, tentunya berdampak terhadap kehidupannya juga anak-anaknya. Iya, sang anak kini tinggal bersama Mae. Anak pertama Mae kelas 1 SMA, dan anak kedua Mae kelas 1 SMP. Mae yang pada kala itu berprofesi hanya sebagai ibu rumah tangga, kini harus berputar otak bagaimana cara menghidupkan keluarga kecilnya lepas pisah dari sang suami. Alhasil Mae-pun melakukan banyak cara agar dapat menghidupi keluarganya, mulai dari buruh cuci dan gosok, menjadi penjahit dadakan, serta memomong anak tetangga. Iya, semua hal Mae tempuh agar dapat menghidupi keluarga kecilnya.

Mengetahui perceraian yang terjadi pada Mae, sontak orang tua Mae begitu terkejut. Apalagi dengan para cucunya, sebagai seorang nenek dan kakek pasti tidak ingin cucunya menderita. Orang tua Mae-pun menawarkan Mae bersama semua anaknya dapat tinggal dirumahnya, jadi tidak perlu repot lagi untuk membayar kontrakan dan kehidupan lainnya. Dalam hal ini Mae ragu, apakah mesti menerima tawaran dari kedua orangtuanya atau tidak. Karena Mae tau dengan pisahnya dia saja sudah memunculkan kesedihan tersendiri bagi kedua orangtuanya. Apalagi ketika dia memutuskan untuk tinggal bersama dengan kedua orangtuanya, Mae takut kedua orang tuanya semakin terhanyut dalam kesedihan tersebut.

Akhirnya Mae memilih untuk tetap tinggal bersama anak-anaknya di sebuah kontrakan. Melihat kegigihan sang anak untuk tetap mandiri ditengah krisis yang dihadapinya, orangtua Mae pun hanya mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya tersebut. Mae pun terus berusaha agar dapat memberikan hal yang terbaik demi buah hatinya.


Meskipun Mae adalah seorang janda, tapi sosoknya begitu terkenal dikalangan para tetangga bukan karena statusnya melainkan tentang kepribadiannya yang sangat santun, ramah, peduli dan ringan tangan dalam membantu orang lain. Qodarullah berkat sisi positif yang ada melekat pada diri Mae ini, Mae diajak rekanannya untuk berbisnis sebuah usaha “Rumah Makan”. Teman Mae ini sangat mengetahui kelebihan Mae, yaitu sangat terampil dalam memasak, dan cocok dilidah semua kalangan.

Tanpa pikir panjang Mae-pun menerima tawaran tersebut dan merintis dari awal usaha bersama dengan temannya. Mae bertindak sebagai koki utama dan temannya sebagai pemilik modal. Bisnis yang dibangun dengan rekanannya tersebut berjalan dengan sangat baik, dan berkembang pesat. Bahkan hanya selang 2-3 tahun bisnis tersebut sudah bisa membuka beberapa cabang disekitaran lokasi yang lainnya.

Dari kisah kehidupan Mae ini, kita dapat melihat bahwa sebenarnya bisa saja Mae menerima tawaran kedua orangtuanya dan bergantung pada mereka untuk membiayai semua kebutuhan hidupnya. Akan tetapi Mae memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Mae lebih memilih berlelah-lelah bekerja, berjuang demi mencukupi kehidupan dapurnya daripada harus meminta belas kasihan orang lain. Hasilnya? lihat bisnis yang dirintis Mae sekarang bisa mencukupi kebutuhan dapurnya, bahkan lebih dari itu. Biaya pendidikan, pangan, papan dapat tercukupi dengan baik. Coba saja kalau Mae diawal memilih menggantungkan hidupnya dan para anaknya kepada kedua orang tuanya. Mungkin sampai sekarang Mae hanya bisa mengadahkan tangannya kepada kedua orangnya, mengharapkan belas kasih dari orang lain.


Intinya adalah seorang muslimah harus mencoba menjadi wanita yang mandiri dalam hal apapun. Selain karena Allah lebih mencintai hambaNya yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, muslimah yang mandiri juga akan menjadi contoh dan panutan bagi lingkungan di sekitarnya. Dia tidak hanya shalihah, cantik, cerdas, dan berakhlak baik, namun juga mandiri dalam hal apapun, sehingga dapat menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Semoga akan semakin banyak muslimah-muslimah mandiri yang hadir di tengah-tengah masyarakat dan memberikan perubahan bagi bangsa dan Islam.


Jumat, 02 Oktober 2015

Penyakit Hati



Akhir-akhir ini entah kenapa ngerasa ada sesuatu yang hilang, tapi tidak tahu itu apa. Segala sesuatu sudah dicoba untuk mendapatkan jawaban tersebut, mulai dari merecall memory, me-list  ini-itu tapi sayang masih belum ketemu sesuatu yang hilang tersebut. Masih belum berhasil juga menemukan penyebab utama kenapa merasakan hal ini. Setiap harinya, jujur masih penasarasan sama apa yang sebenarnya terjadi dengan diri ini. Saya-pun terus berusaha mencari penyebabnya, namun sayang tak kunjung dapat jawaban *tsaah bahasanya saa.. ekeke*.  Sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk ambi baca buku, iya seperti apa yang diungkapkan oleh Maryanne Wolf bahwa dengan membaca buku mampu mengalihkan segalanya. Mulai dari dari mengurangi stress, meningkatkan konsentrasi, membangun rasa percaya diri, dan berpikir kritis. Iya disaat membaca mampu membuat otak kita untuk fokus menciptakan gambaran, bercerita, dan mengalihkan segala gundah ataupun permasalahan yang dirasa dengan fokus untuk mengikuti alur ceritanya. Bagi saya-pun buku adalah senjata utama untuk mengalihkan keadaan ini. Untuk bisa terbebas dari segala belenggu ini.



Mulai melihat daftar bacaan yang ada dikamar, lihat beberapa list beberapa judul buku yang dirasa dapat mengusir perasaan aneh ini. Yap, mulai dari novel picisan, pengembangan diri, parenting. Iya, semuanya sudah selesai saya baca. Semuanya bahkan telah selesai saya review dalam beberapa tulisan pendek. Namun sayangnya, keberhasilan saya dalam merampungkan seluruh buku-buku tersebut belum mampu mengusir perasaan aneh yang ada pada diri ini. Entah kenapa sehabis melahap buku 1,2, perasaan saya berhasil tenang. Namun selang beberapa jam, saya kembali merasakan sesuatu yang hilang, dan perasaan aneh itupun muncul kembali.

Hal ini rasanya sangat aneh bagi saya, iya sebab biasanya saya selalu berhasil mengalihkan segala pikiran dan kesemrawutan hati, hanya dengan membaca. Iya, bahkan biasanya, saya merasa terlahir kembali dan lebih fresh ketika berhasil melahap buku-buku tersebut. Ya, namun kini saya tidak berhasil mengalihkannya. Saya-pun kembali berpikir mungkin ada yang salah dalam pola membaca saya. Iya, mungkin saya yang kurang fokus, atau mungkin saya terlalu lama dalam menghabiskan satu-persatu buku-buku tersebut. Entahlah namun kini saya memilih untuk mencari lagi buku pengganti dan berusaha untuk fokus membacanya, menghayatinya, dan memasukkannya dalam qalbu. Nah untuk buku yang seperti ini, rasanya hanya buku rohani yang dapat mengcovernya. Kembali saya cari daftar buku yang ada dikamar, hingga akhirnya bertemulah dengan buku karangan Amru Khalid, yang berjudul “Ibadah Sepenuh Hati”.



Pikiran utama yang muncul ketika melihat judul buku ini adalah, ehm sepertinya judul ini terlalu berat. Tapi baiklah saya coba membacanya, toh tidak ada salahnya ungkap dalam hati. Lembar-demi lembarpun berhasil saya baca dengan sangat lama. Iya, tidak biasanya saya begitu lama dalam membaca lembar-perlembarnya. Tapi jujur, lembar-perlembar kalimat yang ada didalam buku ini berhasil membius perhatian saya dan  begitu menyindir saya. Iya, membuat hati ini rasanya ditusuk oleh ribuan anak panah. Memporak-porandakan otak dan pikiran saya hanya untuk fokus membacanya. Hanya untuk fokus me-recall segala tindak-tanduk diri. Iya, sebegitu dalam maknanya. Hingga sampailah saya pada pembahasan “Trilogi Hati”. Jujur bab ini begitu melumpuhkan semua kekuatan diri. Begitu membuat diri ini merasa malu, kecil, kotor dan sangat jauh dari diriNya. Itulah beberapa perasaan yang saya rasakan ketika membaca kalimat per kalimat berikut ini:

Trilogi Ibnul Qayyim: Penyakit dan Obatnya

Ibnu Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah sobekan yang tidak bisa dijait kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah ta’ala. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tidak mampu diobati kecuali dengan menyendiri bersamaNya. Di dalam hati juga ada sebuah kesedihan yang tidak akan mampu dihilangkan kecuali oleh kebahagiaan yang tumbuh karena mengenalNya dan ketulusan berinteraksi dengan-Nya. Di dalam hati juga ada sebuah kegelisahan yang tidak akan mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun karena Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju Allah. Di dalam hati juga, terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali oleh keridhaan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan denganNya”.

Baca dan perhatikan baik-baik kalimat tersebut. Coba renungkan dan resapi, semoga anda merasa tersetuh olehNya. Semoga anda merasakan apa yang saya rasakan paska membacanya. Semoga hati anda terketuk oleh kehadiraNya.

Iya, kalimat tersebut begitu membius perhatian saya. Mari kembali kita baca secara perlahan “Di dalam hati ada sebuah sobekan, keterasingan, kesedihan, kegelisahan, dan gejolak api…  Ada beragam penyakit yang obatnya itu hanya satu, dan terkadang justru kita lupakan atau bahkan kita kesampingkan. Iya, yaitu hanya dengan “Mengenal Allah”. Hanya dengan Mengenal-Nya, Membersamai-Nya, dan MenjadikanNya yang utama dalam hidup kita. Persis seperti yang tertuang dalam surat Ar-Rad Ayat 28: “Dan hanya dengan mengingatnya hati menjadi tentram”.


Dan ternyataaaaa, Se-simple itu loh obatnya. Iya, segampang itu. Namun sayang, jiwa ini terkadang terlalu tertutup untuk menyadarinya. Dan iya, saya jadi malu  sendiri. Begitu malu karena telah menutup rapat-rapat pintu untuk bersama denganNya. Begitu malu karena terlalu mendewakan hal-hal yang sifatnya fana. Dan iya, mungkin inilah jawaban atas perasaan yang sedang menghinggapi diri ini. Alhamdulilah selang membacanya, saya-pun merasa begitu tenang, damai. Ehm, ternyata sesuatu yang selama ini saya cari, sesuatu yang selama ini saya risaukan itu karena kegagalan saya mengutamakanNya dalam perjalanan hidup ini. Kegagalan saya bersama denganNya dalam setiap rentetan aktivitas hidup ini. Sebegitu sibuknya jiwa ini, hingga terlupa bahwa Dia begitu merindukan saya. Bahwa Dia ingin mendengar suara-suara kekasihnya. Dan jujur, saya begitu merasa bahagia karena telah berhasil menemukan jawaban teka-teki ini. Aaah, terimakasih tuhan!

Minggu, 27 September 2015

Pernikahan..


Sekilas disaat mendengar kata tersebut, hal yang sering terbanyang dibenak kita adalah sebuah moment sakral. Sebuah moment yang terjalin antara dua hati dan dua kepala dalam pertalian agama. Sebuah moment pengikat dua keluarga. Sebuah moment yang dipercaya sebagai penerus generasi peradaban ini. Juga moment dimana sang Ayah melepas ikatan tanggung jawab yang diemban selama belasan tahun terhadap putrinya kepada si calon pendamping hidup, suami, sahabat dunia akhirat sang putri. Terdengar indah bukan?

Tahukah kamu, bahkan sangking indahnya moment ini para Malaikat dan penduduk Arsy-pun ikut bersimpuh menyaksikan moment sakral tersebut. Menjadi saksi atas cinta suci yang terjalin dalam dua insan tersebut. Merayakan hari tersebut dengan penuh suka cita dan mengiringinya dengan lantunan doa-doa indah menjuntai pintu langit, untuk sebuah keluarga baru. Untuk pasangan yang Allah amanahkan sebagai penerus peradaban. Terbayangkan, betapa sakralnya dihari itu.

Sekali lagi, baca perlahan dan renungkan. Tidak hanya disaksikan oleh seluruh keluarga dan kerabat. Akan tetapi juga oleh bumi, langit, malaikat dan seluruh penduduk Arsy-pun turut hadir. Menjadi saksi moment sakral tersebut (read: akad nikah).


Menarik bukan? Namun dari hal ini, ada satu hal yang sangat perlu diingat. Iya, bahwa perjanjian yang terdapat dalam moment sakral tersebut (read: akad nikah) bukanlah sebuah ucapan kosong yang miskin tanggung jawab dan hanya penuh dengan kesenangan semata. Ketahuilah, bahwa akad nikah merupakan perjanjian yang sangat berat. Bahkan sangking beratnya Allah menggolongkan hal tersebut sebagai “Mitsaqan ghalizha” (read:perjanjian yang berat).

Dari seluruh perjanjian antara Allah dengan makhluknya, hanya tiga yang disebut sebagai “Mitsaqan Ghalizha”. Pertama disaat perjanjian Allah dengan Bani Israil, kedua tentang perjanjian dengan para utusan-Nya (read: para nabi-nabi Allah) dan ketiga disaat moment akad nikah berlangsung. Sebegitu kuatnya perjanjian yang terdapat dalam akad nikah juga tertuang dalam salah satu surahnya. Allah berfirman:

“Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”. (An Nisa’:21) yaitu akad (perjanjian) yang mengharuskan bagi pasangan suami istri untuk melaksanakan janjinya.

Dari hal tersebut perlu dipahami, bahwa akad nikah adalah perjanjian yang sangat berat, Allahpun menyebutnya dengan “Mitsaqan Ghalizha”. Maka itulah sebabnya, jika suatu saat nanti akad tersebut putus, maka ‘Arsy Allah akan berguncang sebegitu dahsyatnya. Setan-setan-pun akan berpesta ria mendengar hal tersebut. Nauuzubilah himindzalik. Semoga Allah melindungi diri kita dan semoga kita dijauhkan dari hal tersebut. 

Sebegitu beratnya perjanjian yang terkandung dalam akad nikah. Sudah selayaknya menyadarkan kita, bahwa untuk memasuki masa tersebut membutuhkan persiapan. Membutuhkan kemantapan lahir dan bathin. Membutuhkan tekat kuat untuk mengarunginya. Ingatlah moment menikah bukan lagi berbicara mengenai kehendak diri, dan merasa dihargai ketika keinginan diri terpenuhi. Bukan pula sekedar ada yang menemani dalam segala aktivitas. Akan tetapi lebih jauh dari itu. 

Berbicara mengenai meruntuhkan ego pribadi dan menggantinya dengan kebahagiaan bersama. Berbicara mengenai rasa saling menghargai dan menghormati. Berbicara mengenai komitmen dan visi bersama. Berbicara juga mengenai sebuah kepercayaan, bibit utama yang harus selalu dipupuk seiring berjalannya waktu pernikahan. Lengkap dengan paket saling menghargai, menghormati, dan mempertahankan kualitas cinta yang ada.

Ketika seluruh amunisi dirasa sudah cukup, barulah mulai menata dirimu, memasuki moment sakralmu. Ingatlah juga bahwa moment ini hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Gamau dong kita gagal atau salah langkah dalam menapakinya? Maka persiapkan dirimu dengan baik. Matangkanlah dirimu, tempa-lah dirimu. Lakukan segala macam cara yang mendukungmu kearah sana. Ingat juga bahwa kelak ditangan kalianlah generasi madaniah tercipta. 

Maka tidak salah jika kalian sudah mulai mempersiapkannya diawal. Mempersiapkan untuk menjadi Ayah dan Bunda terbaik bagi anak kalian. Menjadi Ayah dan Bunda yang sudah siap ketika Dia menitipkan rejekinya kepadamu. Ini penting loh. Banget! Sedikit cerita aja nih ya. Belakangan ini saya sering ketemu pasangan muda yang membawa anak batita tapi emosi mereka sangat sulit terkontrol. Iya, entah pertengkaran apa yang melatari mereka. Entah ego apa yang merusak kebersamaan mereka. Akan tetapi anak selalu menjadi korban atas ketidakdewasaan para orang tua mereka. Cacian, kata-kata kasar, bahkan pukulan kerap kali melayang dari tangan orang tua tersebut sebagai salah satu media memenangkan tantrum anak. Sedih kaan! Yang sedihnya lagi ternyata bukan satu, dua para orang tua yang melakukan demikian. Tapi banyaaaak! Bahkan pola asuh yang demikian sudah mendarah daging dari para orang tua.

Padahal dari apa yang dilakukan oleh orang tua tersebut akan sangat berdampak terhadap perkembangan sang anak loh. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lise Gilliot  menunjukan ketika seorang anak  mendengar sebuah suara keras dan bentakan kasar dari orang tuanya, maka disaat itu juga 10 milyar sel otak yang sedang bertumbuh terbunuh. Iya, satu bentakan atau makian yang orang tua lontarkan terhadap anaknya, mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Nah loh itu baru bentakannya aja loh. Belum lagi cubitan-cubitan melayang, pukulan-pukulan, lempar ini itu, dan sebagainya. Sediiih bangeet kan?


Iya, sedih. Ternyata perjanjian yang Allah golongkan sebagai Mitsaqan Ghalizha belum menjadi alasan kuat untuk mempersiapkan diri lahir dan bathin mengarungi bahtera. Sedih, ternyata moment sakral yang disaksiin sama keluarga, kerabat, malaikat dan penduduk Arsy itu pun belum menjadi alasan kuat dalam menghargai titipanNya. Sedih juga, jarena ternyata cinta suci yang menaungi dua insan tersebut belum menjadi alasan kuat dalam menggapai ridhoNya. Hiks. gamau kan seperti itu. Iya, semoga apa yang terjadi dilingkungan sekitar kita ini semakin menyadari diri ini untuk tidak berperilaku demikian terhadap anak. Dan semoga juga membuat kita lebih semangat untuk mempersiapkan moment indah tersebut dengan bekal yang cukup! Aamiin


Jumat, 07 Agustus 2015

Ini bukan mauku, Ma


Belakangan ini, jujur udah jarang banget main ke sekolahan (baca: SMA). Iya, biasanya agenda main ke sekolahan baik untuk sekedar melepas masa rindu moment putih abu-abu atau pun sengaja untuk meluangkan waktu bertemu dengan para guru disana. Kali ini, tetiba kepikiran untuk main ke sekolah. Rencana kali ini tujuan saya hanya satu, ingin menemui guru bp. Sesampainya di sekolah, seperti yang saya duga saya disambut dengan baik oleh semua guru-guru *maklum dulunya jagoan kelaas, eeh boong.. gak gitu cuman siswa/i biasa kok* wkwkwk. Hingga sampailah saya bertemu dengan guru bp.


Obrolan kami pun dimulai. Yaps, dimulai dengan pertanyaan "udah lulus belom kamu?"dan tanpa arahan, pertanyaan itupun mengalir begitu saja menceritakan kondisi rekan-rekan yang lainnya.

Iya, mulai dari rekanan SMA yang sudah nikah, punya anak, yang ini jadian dengan yang ini. Pertanyaan awal tadi bagaikan pembuka topik yang tak habis-habis untuk dibahas. Lama mengobrol tentang kondisi rekanan dulu, hingga sampailah pembahasan pada peer group yang mewarnai masa putih abu-abu dulu.

A: Eh bagaimana itu temen-temen kamu yang ban**l dulu? "Iya, masih inget ibu.. mereka kan dulu satu satunya geng penguasa sekolah.. yang tingkahnya.. "Gakketolongan". Apa kabar mereka semua? Kamu tau sa? 

mendengar hal tersebut cuma senyum simpul, dan menjawab beberapa rekanan di geng tersebut yang saya tau perkembangan kondisinya. 

B: si c masih kuliah bu setau saya di Trisaksi, kalo si d awalnya sih juga di Trisakti bareng c tapi kayaknya udah pindah. Gatau kemana, kalo si e setau saya di Esa Unggul. Sisanya tidak tahu bu.. karena saya kan jarang main sama mereka, jawab saya.

A: Iya, mereka itu. Aduh ibu kalo keingetan lucu aja ngeliat tingkahnya.. err** semua. Eeh sekarang banyak loh Ade kelas kamu yang begitu. Kalo dulu kan satu gengs itu terdiri dari perwakilan beberapa kelas yang campur sa. Sekarang, lebih parah lagi. Hampir di tiap kelas ada.


mendengar hal itu, sekali lagi saya hanya membalasnya dengan tersenyum simpul. Lalu menanyakan 

B: Mereka orang tuanya gimana bu?. 

A: Nah iya itu sa, kayak biasa dari kalangan ekonomi mampu, ya tapi mayoritas orang tuanya sudah bercerai. 

Saya pun menimpali, ehm....

B: Kalaupun tidak bercerai, pasti orang tuanya sibuk bisnis dan anak tidak terurus yah bu?

A: Iya sa, nah itu rata-rata begitu. Kadang ibu pusing ngurusnya. Soalnya ini jumlahnya banyak banget yang begitu, maksudnya gak sebanyak angkatan kamu. Parah sekarang.



Well, dari dulu, entah kenapa saya tidak suka kalau anak-anak yang tersebut di label sebagai anak bandel, rusuh, banyak gaya, dsbnya. Jika dilihat dari Teori Tabularasa yang dikemukakan oleh John Locke dan Francis Bacon, mengungkapkan bahwa sejatinya setiap anak itu terlahir pintar, cerdas, dan baik. Bagaikan kertas putih yang belum ditulisi (a sheet ot white paper avoid of all characters). Jadi, sejak lahir anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa. Anak dapat dibentuk sekehendak para pendidiknya. Di sini kekuatan ada pada pendidik anak tersebut. Pendidikan dan lingkungan berkuasa atas pembentukan anak.

Dalam tahap ini tergantung bagaimana pola asuh yang diterapkan orang tuanya sebagai pendidik pertama sang anak. Menariknya, pembahasan mengenai anak-anak yang dilabel seperti diatas, mayoritas berasal dari keluarga seperti itu. Mulai dari keluarga yang broken home, atau pada keluarga yang tidak memprioritaskan perkembangan anaknya dengan baik, dikarenakan kesibukan kedua orangtuanya terhadap bisnisnya. Sekali lagi, saya tidak pernah mau menyalahkan anak apabila mereka berbuat demikian. Pasalnya bila dilihat dari latar belakang anak-anak tersebut, hingga berprilaku demikian. Sebenarnya bukan faktor alami mereka yang berperilaku demikian, akan tetapi karena faktor dan pengaruh lain.

Memasuki masa SMA, berarti sang anak sedang memasuki tahap remaja. Wajar jika dalam tahap ini remaja bersikap salah, karena masa remaja adalah pencarian jati diri, bahasa kerennya sih "aqua age". Ibarat air, remaja bisa berubah cepat mengikuti lingkungannya. Bila lingkungannya baik, dia ikut baik; bila lingkungannya buruk mereka ikuti pula. Akan tetapi apabila kita melihat anak-anak diatas. Saya rasa mereka hanya memberontak, dan sekedar mencari perhatian dari kedua orang tuanya. 

Kenapa bisa dibilang demikian? Ingat dalam setiap perceraian orang tua, pihak yang paling dirugikan adalah sang anak. Meskipun memang kedua orang tua mereka berpikir perceraian adalah jalan terbaik bagi mereka. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi sang anak, mereka sangat menginginkan kedua orang tua mereka bersama kembali seperti sedia kala. Dampak terbesar dari perceraian yang terjadi pada orang tua tersebut, adalah perubahan sikap dan perilaku pada anak tersebut. Mulai dari anak yang depresi, mudah meledak-ledak (marah dan agresif), serta melakukan pelarian melupakan masalahnya dengan ikut-ikutan narkoba, alcohol, dan pergaulan bebas.

Selain itu, apabila permasalahan yang terjadi pada anak ini kita kaji menggunakan Hirarki Kebutuhan Manusia versi Maslow, yaitu:

1. Psychological Needs (Makan, minum, kenyamanan, dsbnya)
2. Safety and Security (perlindungan, bebas dari ancaman)
3. Belonging and attachment (rasa ingin dicintai, diperhatikan, empati dan memiliki hubungan dekat)
4. Self esteem dan self efficacy (membangun image, citra diri, kapabilitas, dan kontrol diri)
5. Self Actualization and Transcende (masa pengaktualisasisan dirinya)




Apabila kita lihat dari 5 hal kerangka kebutuhan tersebut. Maka pada kasus pada anak yang dilabel sebagai anak yang "nakal, bandel, rusuh, dsbnya" . Terjadi karena tidak terpenuhi kebutuhan belonging and attachment. Iya, para anak tersebut merasa tidak dicintai lagi oleh kedua orang tuanya, tidak diperhatikan lagi oleh orang tuanya, serta tidak lagi menjadi prioritas utama bagi kedua orang tua mereka (baik karena kondisi yang sudah bercerai, atau orang tua yang sibuk dengan bisnisnya). Kejadian yang dialami oleh anak ini, membuat mereka mencari pelarian dan mencari kenyamanan yang sudah tidak dia dapatkan lagi dari orang tuanya, dan dirumahnya. Hingga akhirnya sang anak merasa lebih nyaman bersama dengan para peer grupnya. Para peer group yang nyatanya adalah lingkungan yang tidak baik, dan justru semakin merusak kehidupan anak tersebut.

Sayangnya, disaat anak kedapatan terjebak dalam pergaulan bebas. Tanpa berpikir panjang, para orang tua justru menyalahkan prilaku, dan perbuatan mereka. Tak habis-habis orang tua memarahi, membentak, bahkan tak jarang ada yang menggunakan kekerasan fisik pada anaknya. Para orang tua terkadang lupa, faktor terbesar anak berprilaku demikian adalah karena dirinya. 

Sekarang, bukan lagi saatnya kita menyalahkan mereka, karena perbuatan dan perilakunya.

Iya karena pada dasarnya mereka hanya ingin mencari perhatian. Perhatian yang tidak didapatkannya karena kesibukan kedua orang tuanya atau karena perceraian yang terjadi. 

Iya, karena pada dasarnya mereka sangat butuh rangkulan dan kasih sayang dari kita. Yang sudah tidak lagi didapatkannya dari kedua orang tuanya. 

Iya karena mereka hanya butuh sandaran dan tempat bercerita. Yang sudah tidak lagi didapatkannya dari kedua orang tuanya. 

Ingatlah,  disaat kita berpikir mereka bandel, buruk, dan tidak baik. Disaat itupula lah kita sedang menutup pintu untuk membantunya kembali seperti sedia kala. Untuk membuatnya berubah.

Jangan pernah benci dan hakimi mereka, because we are human. Yang tentunya ingin diperlakukan baik oleh semua pihak.