Masa lanjut usia
merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan semua keterbatasannya pasti akan
dialami oleh seseorang apabila ia panjang umur. Proses menua atau aging adalah suatu proses alami yang
terjadi pada semua mahluk hidup. Laslett dkk mengungkapkan bahwa menjadi tua (aging) merupakan proses perubahan
biologis secara terus-menerus yang dialami manusia pada semua tingkatan umur
dan waktu.
Namun
sayangnya pencapaian tersebut kini tidak lagi dianggap sebagai suatu anugrah
yang patut dijaga. Ada yang menganggap hadirnya para lanjut usia justru semakin
menyulitkan mereka. Mereka mengganggap para lanjut usia hanya-lah beban,
ditambah dengan berbagai pembawaan sifat tuanya seperti pemarah, emosinal,
dsbnya yang justru menghambat aktivitas mereka. Bahkan tidak jarang anak muda
saat ini menganggap para lanjut usia adalah orang yang kolot dan tidak tahu
perubahan jaman.
Dari
14 dari 20 mahasiswa yang pernah saya tanyakan mengenai “apakah yang terlintas
dibenak anda ketika mendengar kata lanjut usia”. Muncul jawaban beragam, yang
kesemuanya itu mengarah pada stereotype
atau citra diri negatif pada lanjut usia seperti berikut ini:
- Sakit-sakitan
- Murung
- Sensitif
- Bawel
- Pikun
- Kesepian
- Emosional
Dari
semua hal yang disebutkan oleh para mahasiswa ini sebenarnya tidak ada yang
salah, karena memang berbagai hal tersebut adalah hal yang wajar dialami ketika
seseorang memasuki masa lanjut usia. Akan tetapi ada satu hal yang perlu
diluruskan dalam memahami permasalahan ini. Bahwa pada dasarnya berbagai strereotype yang melekat pada diri
seorang lanjut usia tersebut bukanlah sebuah stereotype atau citra negatif mereka. Melainkan memang sebuah
perubahan alamiah yang muncul ketika seseorang memasuki masa lanjut usia.
Selain
itu, perbedaan rentang umur yang cukup jauh antara yang muda (cucu) dan yang
tua mengakibatkan terjadinya distorsi nilai yang mengakibatkan cara pandang
dalam memaknai mereka berbeda. Seperti contohnya sang cucu yang ketika bermain
kerumah neneknya dan disaat kumpul bersama diruang keluarga lebih memilih channel tv yang berisikan musik terkini,
sedangkan nenek atau kakek malah mengantinya dengan channel tv yang berbau dangdut. Terjadinya hal ini tak jarang memunculkan
perbedaan cara pandang dari para cucu, yang menganggap sang nenek itu tidak
gaul, yang mengakibatkan mereka enggan untuk bersama dengan sang nenek karena atau
di tahapan yang lebih lanjut lagi menganggap sang nenek banyak aturan. Karena
misalnya melarang untuk mengikuti style
rambut masa kini untuk diwarna-warnai atau sekedar tidak boleh keluar malam,
dan berbagai sifat emosionalnya yang mewarnai dalam berbicara dan bertindak
ketika keinginannya tidak diikuti.
Terjadinya
berbagai perubahan pada lanjut usia inilah yang saat ini perlu dijadikan
perhatian oleh para kaum muda maupun para orangtua. Bahwa pada dasarnya
perubahan yang terjadi pada para lanjut usia merupakan hal yang alamiah
terjadi. Secara umum Hurlock (2007) mengelompokan
3 perubahan alamiah yang akan dialami oleh seseorang ketika memasuki masa
dewasa akhir (lanjut usia), mulai dari:
1. Perubahan
pada aspek fisik
Perubahan pada aspek fisik merupakan perubahan
terbesar yang terjadi pada kelompok usia ini. Adapun berbagai perubahan tersebut
terdiri dari beberapa hal, seperti pada penampilannya yang ditandai rambut yang
menipis dan berubah menjadi abu-abu, pipi berkerut, bentuk mulut yang berubah
akibat hilangnya gigi, dsbnya. Kemudian, perubahan pada fungsi fisiologisnya
yang ditandai dengan tidak tahan terhadap temperature yang sangat panas atau
sangat dingin dan terjadi penurunan dalam jumlah waktu tidurnya. Disamping itu
orang usia lanjut memerlukan waktu yang relatif lama dalam memulihkan tenaganya
ketika terjadi kelelahan fisik maupun mental.
Selanjutnya adalah perubahan panca
indera. Memasuki masa usia ditandai dengan kurang sensitivitasnya fungsi organ-organ
penginderaan seperti mata yang mulai
kabur dalam melihat, pendengaran yang kurang, indera pengecapan yang mulai
tidak sensitif lagi terhadap merasai dan juga cara bekerja yang mulai melamban.
2. Perubahan
pada Aspek Sosial
Memasuki masa tua ditandai dengan berkurangnya
kontak sosial, baik dengan anggota keluarga, masyarakat maupun teman kerja. Terjadinya
perubahan stuktur keluarga dari yang keluarga luas (extended family) ke keluarga inti (nuclear family) juga akan mengurangi kontak sosial pada para
lanjut usia.
Selain itu juga, kalaupun lanjut usianya masih
memiliki semangat untuk dapat menjalin silahturahmi baik dengan temen sebaya
atau para kerabatnya. Mereka terbatasi oleh perubahan fisik yang terjadi pada
diri mereka, yang mengakibatkan mereka kesulitan untuk tetap menjalin hubungan social
tersebut. Kalaupun mereka tetap ingin mengunjungi kolega atau kerabatnya mereka
membutuhkan peran orang lain untuk dapat mengantarkan mereka.
Kondisi ini sering diistilahkan dengan social disengagement, yaitu proses
pengunduran diri yang terjadi pada masa lanjut usia dari lingkungannya. Adapun aktivitas terjadinya social disengagement ini ditandai
dengan beberapa hal, mulai dari: keterlibatan dengan orang lain berkurang,
pengurangan peranan social dimasyarakat, dan berkurangnya partisipasi dalam
kegiatan fisik. Kurangnya kontak sosial ini menimbulkan perasaan kesepian,
murung, yang berdampak pada kebahagiaan lanjut usia tersebut (Noorkasiani,
2009).
Belum lagi ditambah perubahan sistem nilai sosial
yang terjadi pada saat ini yang menuju masyarakat individualistic. Disadari
atau tidak hal ini juga berpengaruh bagi kehidupan para lanjut usia yang
membuat mereka kurang mendapatkan perhatian, bahkan beberapa dari mereka ada
yang sampai tersisih dari kehidupan masyarakat dan terlantar. Permasalahan
inipun dapat berakibat pada kesendirian atau isolasi sosial yang dirasakan oleh
lanjut usia.
- Perubahan
pada Aspek Psikologis
Pada intinya perubahan pada aspek
psikologis ini juga merupakan dampak dari perubahan social yang terjadi pada
diri lansia. Seperti mulai berkurangnya kontak social mereka terhadap teman
sejawatnya, lingkungan, dsbnya. Ditambah lagi dengan perasaan kehilangan,
karena rekan-rekan sejawatnya bukannya sudah sulit untuk ditemui saja. Akan
tetapi juga beberapa dari mereka ada yang sudah meninggal dunia.
Keadaan ini akan menimbulkan
perasaan sedih bagi para lanjut usia tersebut. Belum lagi juga masa kehilangan
pasangan yang kadang sangat mempengaruhi kondisi psikologis para lanjut usia
ini. Secara teori masa kehilangan pasangan, merupakan masa terberat yang harus
dihadapi oleh diri lansia. Disaat mereka kehilangan pasangan hidupnya banyak
mereka yang sudah tidak mempunyai semangat lagi untuk menjalani kehidupannya.
Mereka merasa hanya seorang diri menjalani kehidupan ini. Pasalnya anak mereka
kadang sibuk, cucu jarang mengunjungi dsbnya.
Bahkan ketika memasuki masa seperti
ini banyak diantara para lanjut usia yang tidak hanya diserang kesepian akut (the emptiness syndrome) akan tetapi
juga depresi. Sejalan dengan hal ini Corney
mengungkapkan bahwa depresi merupakan permasalahan kedua yang banyak terjadi
pada lansia selain kesehatan. Aspek emosional yang terganggu, pada mereka,
seperti kecemasan, stress berat, dan depresi secara tidak langsung
mengakibatkan gangguan terhadap kesehatan fisik mereka.
Kondisi-kondisi seperti inilah yang
seharusnya menjadi perhatian kita semua untuk lebih aware lagi terhadap mereka. Lebih peduli lagi pada mereka, serta
mulai belajar dan mengusahakan untuk meluangkan waktu bersama dengan mereka,
bukan memberikan sisa waktu dari kesibukan kita.
Selain itu, memasuki masa lanjut
usia secara psikologis akan terjadi perubahan minat dan keinginan pada mereka
yang tidak dapat dihindari. Perubahan inilah yang menyebabkan mereka menjadi
sangat berorientasi terhadap egonya (egocentric)
dan pada dirinya (self-centred). Dimana
mereka lebih banyak berfikir tentang dirinya dari pada orang lain dan kurang
memperhatikan keinginan dan kehendak orang lain. Kondisi ini pula yang kadang
salah kaprah diterjemahkan oleh masyarakat sebagai sifat utama dari lanjut usia
seperti pemarah, sensitive atau bahkan terlalu emosinal. Yang terkadang
menyebabkan terjadinya jarak diantara mereka. Para anak muda, cucu atau bahkan
anak lanjut memilih untuk menjaga jarak terhadap para lanjut usia, dari pada
berada disekitar mereka yang memiliki perubahan kondisi tersebut.
Hal inilah yang perlu kita antisipasi sejak
awal. Perlunya pemahaman pada anak, cucu ataupun masyarakat umum bahwa pada
dasarnya berbagai perubahan yang terjadi pada diri lanjut usia tersebut, mulai
dari aspek biologis, social dan psikologis merupakan perubahan alamiah, yang
tentu nantinya juga akan kita alami ketika memasuki masa tersebut. Kalau pun
saja mereka bisa memilih ingin mengalaminya atau tidak, tentunya mereka akan memilih untuk tetap
sehat, bugar dan juga dapat beraktivitas biasa seperti masa mudanya.
Maka tidak seharusnya lagi kita
mengasingkan mereka dan menganggap mereka menyebalkan. Luangkan waktu kita
untuk bersama mereka. Banyak pelajaran hidup yang dapat kita ambil pada diri
mereka. Mulai dari bagaimana mereka bisa memaknai hidup, sukses dan masih bisa
sehat bugar diusia senjanya. Atau bahkan belajar tentang resep masakan yang
saat ini sudah mulai kita tinggalkan, seperti ongol-ongol, rendang, dan makanan
tradisional lainnya.
Warisan budaya terbaik, ya mereka-lah
satu-satunya saksi hidup sejarah keluarga kita atau bahkan sejarah bangsa kita.
Mereka tahu tentang bagaimana kebudayaan minang berkembang, tentang alasan
orang minang merantau, dan alasan budaya membeli kaum adam pada laki-laki dan sejarah
lainnya.
Dan masihkan kita enggan untuk bersama
mereka? Padahal banyak hal yang dapat kita gali dari mereka, sementara waktu
mereka tidak banyak.
Masih ingat, kapan terakhir kali
kita mengunjunginya? Satu bulan yang lalu, tiga bulan yang lalu, atau bahkan tahun
lalu?
Dan masihkan mereka bagian dari
kita, sementara jatah waktu yang kita miliki saja tidak rela untuk kita habiskan
bersama mereka.












