Jumat, 07 Agustus 2015

Ini bukan mauku, Ma


Belakangan ini, jujur udah jarang banget main ke sekolahan (baca: SMA). Iya, biasanya agenda main ke sekolahan baik untuk sekedar melepas masa rindu moment putih abu-abu atau pun sengaja untuk meluangkan waktu bertemu dengan para guru disana. Kali ini, tetiba kepikiran untuk main ke sekolah. Rencana kali ini tujuan saya hanya satu, ingin menemui guru bp. Sesampainya di sekolah, seperti yang saya duga saya disambut dengan baik oleh semua guru-guru *maklum dulunya jagoan kelaas, eeh boong.. gak gitu cuman siswa/i biasa kok* wkwkwk. Hingga sampailah saya bertemu dengan guru bp.


Obrolan kami pun dimulai. Yaps, dimulai dengan pertanyaan "udah lulus belom kamu?"dan tanpa arahan, pertanyaan itupun mengalir begitu saja menceritakan kondisi rekan-rekan yang lainnya.

Iya, mulai dari rekanan SMA yang sudah nikah, punya anak, yang ini jadian dengan yang ini. Pertanyaan awal tadi bagaikan pembuka topik yang tak habis-habis untuk dibahas. Lama mengobrol tentang kondisi rekanan dulu, hingga sampailah pembahasan pada peer group yang mewarnai masa putih abu-abu dulu.

A: Eh bagaimana itu temen-temen kamu yang ban**l dulu? "Iya, masih inget ibu.. mereka kan dulu satu satunya geng penguasa sekolah.. yang tingkahnya.. "Gakketolongan". Apa kabar mereka semua? Kamu tau sa? 

mendengar hal tersebut cuma senyum simpul, dan menjawab beberapa rekanan di geng tersebut yang saya tau perkembangan kondisinya. 

B: si c masih kuliah bu setau saya di Trisaksi, kalo si d awalnya sih juga di Trisakti bareng c tapi kayaknya udah pindah. Gatau kemana, kalo si e setau saya di Esa Unggul. Sisanya tidak tahu bu.. karena saya kan jarang main sama mereka, jawab saya.

A: Iya, mereka itu. Aduh ibu kalo keingetan lucu aja ngeliat tingkahnya.. err** semua. Eeh sekarang banyak loh Ade kelas kamu yang begitu. Kalo dulu kan satu gengs itu terdiri dari perwakilan beberapa kelas yang campur sa. Sekarang, lebih parah lagi. Hampir di tiap kelas ada.


mendengar hal itu, sekali lagi saya hanya membalasnya dengan tersenyum simpul. Lalu menanyakan 

B: Mereka orang tuanya gimana bu?. 

A: Nah iya itu sa, kayak biasa dari kalangan ekonomi mampu, ya tapi mayoritas orang tuanya sudah bercerai. 

Saya pun menimpali, ehm....

B: Kalaupun tidak bercerai, pasti orang tuanya sibuk bisnis dan anak tidak terurus yah bu?

A: Iya sa, nah itu rata-rata begitu. Kadang ibu pusing ngurusnya. Soalnya ini jumlahnya banyak banget yang begitu, maksudnya gak sebanyak angkatan kamu. Parah sekarang.



Well, dari dulu, entah kenapa saya tidak suka kalau anak-anak yang tersebut di label sebagai anak bandel, rusuh, banyak gaya, dsbnya. Jika dilihat dari Teori Tabularasa yang dikemukakan oleh John Locke dan Francis Bacon, mengungkapkan bahwa sejatinya setiap anak itu terlahir pintar, cerdas, dan baik. Bagaikan kertas putih yang belum ditulisi (a sheet ot white paper avoid of all characters). Jadi, sejak lahir anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa. Anak dapat dibentuk sekehendak para pendidiknya. Di sini kekuatan ada pada pendidik anak tersebut. Pendidikan dan lingkungan berkuasa atas pembentukan anak.

Dalam tahap ini tergantung bagaimana pola asuh yang diterapkan orang tuanya sebagai pendidik pertama sang anak. Menariknya, pembahasan mengenai anak-anak yang dilabel seperti diatas, mayoritas berasal dari keluarga seperti itu. Mulai dari keluarga yang broken home, atau pada keluarga yang tidak memprioritaskan perkembangan anaknya dengan baik, dikarenakan kesibukan kedua orangtuanya terhadap bisnisnya. Sekali lagi, saya tidak pernah mau menyalahkan anak apabila mereka berbuat demikian. Pasalnya bila dilihat dari latar belakang anak-anak tersebut, hingga berprilaku demikian. Sebenarnya bukan faktor alami mereka yang berperilaku demikian, akan tetapi karena faktor dan pengaruh lain.

Memasuki masa SMA, berarti sang anak sedang memasuki tahap remaja. Wajar jika dalam tahap ini remaja bersikap salah, karena masa remaja adalah pencarian jati diri, bahasa kerennya sih "aqua age". Ibarat air, remaja bisa berubah cepat mengikuti lingkungannya. Bila lingkungannya baik, dia ikut baik; bila lingkungannya buruk mereka ikuti pula. Akan tetapi apabila kita melihat anak-anak diatas. Saya rasa mereka hanya memberontak, dan sekedar mencari perhatian dari kedua orang tuanya. 

Kenapa bisa dibilang demikian? Ingat dalam setiap perceraian orang tua, pihak yang paling dirugikan adalah sang anak. Meskipun memang kedua orang tua mereka berpikir perceraian adalah jalan terbaik bagi mereka. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi sang anak, mereka sangat menginginkan kedua orang tua mereka bersama kembali seperti sedia kala. Dampak terbesar dari perceraian yang terjadi pada orang tua tersebut, adalah perubahan sikap dan perilaku pada anak tersebut. Mulai dari anak yang depresi, mudah meledak-ledak (marah dan agresif), serta melakukan pelarian melupakan masalahnya dengan ikut-ikutan narkoba, alcohol, dan pergaulan bebas.

Selain itu, apabila permasalahan yang terjadi pada anak ini kita kaji menggunakan Hirarki Kebutuhan Manusia versi Maslow, yaitu:

1. Psychological Needs (Makan, minum, kenyamanan, dsbnya)
2. Safety and Security (perlindungan, bebas dari ancaman)
3. Belonging and attachment (rasa ingin dicintai, diperhatikan, empati dan memiliki hubungan dekat)
4. Self esteem dan self efficacy (membangun image, citra diri, kapabilitas, dan kontrol diri)
5. Self Actualization and Transcende (masa pengaktualisasisan dirinya)




Apabila kita lihat dari 5 hal kerangka kebutuhan tersebut. Maka pada kasus pada anak yang dilabel sebagai anak yang "nakal, bandel, rusuh, dsbnya" . Terjadi karena tidak terpenuhi kebutuhan belonging and attachment. Iya, para anak tersebut merasa tidak dicintai lagi oleh kedua orang tuanya, tidak diperhatikan lagi oleh orang tuanya, serta tidak lagi menjadi prioritas utama bagi kedua orang tua mereka (baik karena kondisi yang sudah bercerai, atau orang tua yang sibuk dengan bisnisnya). Kejadian yang dialami oleh anak ini, membuat mereka mencari pelarian dan mencari kenyamanan yang sudah tidak dia dapatkan lagi dari orang tuanya, dan dirumahnya. Hingga akhirnya sang anak merasa lebih nyaman bersama dengan para peer grupnya. Para peer group yang nyatanya adalah lingkungan yang tidak baik, dan justru semakin merusak kehidupan anak tersebut.

Sayangnya, disaat anak kedapatan terjebak dalam pergaulan bebas. Tanpa berpikir panjang, para orang tua justru menyalahkan prilaku, dan perbuatan mereka. Tak habis-habis orang tua memarahi, membentak, bahkan tak jarang ada yang menggunakan kekerasan fisik pada anaknya. Para orang tua terkadang lupa, faktor terbesar anak berprilaku demikian adalah karena dirinya. 

Sekarang, bukan lagi saatnya kita menyalahkan mereka, karena perbuatan dan perilakunya.

Iya karena pada dasarnya mereka hanya ingin mencari perhatian. Perhatian yang tidak didapatkannya karena kesibukan kedua orang tuanya atau karena perceraian yang terjadi. 

Iya, karena pada dasarnya mereka sangat butuh rangkulan dan kasih sayang dari kita. Yang sudah tidak lagi didapatkannya dari kedua orang tuanya. 

Iya karena mereka hanya butuh sandaran dan tempat bercerita. Yang sudah tidak lagi didapatkannya dari kedua orang tuanya. 

Ingatlah,  disaat kita berpikir mereka bandel, buruk, dan tidak baik. Disaat itupula lah kita sedang menutup pintu untuk membantunya kembali seperti sedia kala. Untuk membuatnya berubah.

Jangan pernah benci dan hakimi mereka, because we are human. Yang tentunya ingin diperlakukan baik oleh semua pihak.