Minggu, 04 Oktober 2015

Muslimah Wonder Women


Setiap orang pastinya memiliki cara pandang atau penilaian tersendiri mengenai seseorang. Apalagi perihal perempuan. Iya, sekali melihatnya saja banyak sisi positif yang bisa digali terhadapnya. Sholehah, cerdas, cantik, ramah, dan masih banyak sisi lainnya yang melekat pada diri seorang perempuan. Jika kesemua sisi tersebut kita padukan jadi satu, mutlak sudah dia adalah seorang perempuan yang begitu sempurna. Well, apalagi jika pada diri seorang perempuan tersebut melekat satu kata lagi, yaitu “mandiri”. Sudah sangat dipastikan perempuan tersebut merupakan perempuan hebat, and maybe we can call her as wonder women.

Sosok perempuan seperti ini sebenarnya banyak bermunculan disekitaran kita. Terkadang hanya saja kita terfokus melihat dari sisi lainnya sehingga hal tersebut tertutupi dari sisi positif lainnya yang ada pada diri seorang perempuan. Namun ternyata, perempuan juga penting untuk menjadi pribadi yang mandiri. Coba kita kembali lihat sisi positif yang melekat pada diri perempuan cantik, sholehah, ramah, positif, cerdas. Tentunya akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi perempuan tersebut apabila dia dapat mandiri dalam kehidupannya. Mandiri disini berarti mencoba untuk tidak bergantung pada siapapun untuk mencukupi segala macam kebutuhan hidupnya dan selalu berusaha untuk meningkatkan kehidupannya lebih baik lagi. Perempuan yang mandiri selalu percaya bahwa rezeki itu sudah ditentukan oleh Allah sehingga selama dia mengusahakan yang terbaik, dia yakin Allah akan memberikan yang terbaik. Contoh yang paling bisa kita jadikan panutan yaitu Bunda Khadijah. Beliau adalah sosok yang sangat mulia dan tersohor karena kehebatan beliau dalam me-manage wirausahanya. Bahkan lewat bidang usaha yang digelutinya, beliau dapat membantu Nabi Muhammad SAW dalam menyiarkan agama islam ini.

Allah memang sangat menyukai para hamba-hambanya yang dapat mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Allah lebih menyukai hambanya yang tangannya berada diatas dari pada dibawah meminta-minta. Dalam surat An Najm ayat 39, Allah berfirman, “Seseorang tidak mendapatkan sesuatu kecuali apa yang telah diusahakannya.” Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari pun disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Niscayalah jikalau seseorang dari engkau semua itu mengambil tali-talinya-untuk mengikat-lalu ia datang di gunung, kemudian ia datang kembali di negerinya dengan membawa sebongkahan kayu bakar di atas punggungnya, lalu menjualnya kemudian dengan cara sedemikian itu Allah menahan wajahnya- yakni dicukupinya kebutuhannya, maka hal yang semacam itu adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta sesuatu pada orang-orang, baik mereka itu suka memberinya atau menolaknya.” Hadis dan ayat Al Qur’an ini menunjukkan bahwa mandiri adalah salah satu sifat seorang mukmin yang dicintai Allah.

Oleh karena itu, bagi para muslimah yang memilih untuk mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain, kita pantas untuk menyebutnya sebagai seorang Muslimah wonder women


Selain kisah Khadijah, kisah para wanita muslimah mandiri lainnya juga dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja nama muslimah tersebut adalah Mae. Mae adalah seorang muslimah yang berasal dari golongan menengah dan memiliki dua anak. Sayangnya ketika anak pertamanya menduduki bangku SMA, ujian Allah datang kepada Mae yaitu suaminya yang bermasalah. Singkat cerita permasalahan ini sudah tidak bisa lagi termaafkan karena suami Mae sudah berkali-kali melakukannya, dan Mae merasa tidak kuat lagi menanggung rasa sakit akan hal tersebut. Perceraian adalah jalan yang diambil Mae pada saat itu.

Keputusan Mae ini, tentunya berdampak terhadap kehidupannya juga anak-anaknya. Iya, sang anak kini tinggal bersama Mae. Anak pertama Mae kelas 1 SMA, dan anak kedua Mae kelas 1 SMP. Mae yang pada kala itu berprofesi hanya sebagai ibu rumah tangga, kini harus berputar otak bagaimana cara menghidupkan keluarga kecilnya lepas pisah dari sang suami. Alhasil Mae-pun melakukan banyak cara agar dapat menghidupi keluarganya, mulai dari buruh cuci dan gosok, menjadi penjahit dadakan, serta memomong anak tetangga. Iya, semua hal Mae tempuh agar dapat menghidupi keluarga kecilnya.

Mengetahui perceraian yang terjadi pada Mae, sontak orang tua Mae begitu terkejut. Apalagi dengan para cucunya, sebagai seorang nenek dan kakek pasti tidak ingin cucunya menderita. Orang tua Mae-pun menawarkan Mae bersama semua anaknya dapat tinggal dirumahnya, jadi tidak perlu repot lagi untuk membayar kontrakan dan kehidupan lainnya. Dalam hal ini Mae ragu, apakah mesti menerima tawaran dari kedua orangtuanya atau tidak. Karena Mae tau dengan pisahnya dia saja sudah memunculkan kesedihan tersendiri bagi kedua orangtuanya. Apalagi ketika dia memutuskan untuk tinggal bersama dengan kedua orangtuanya, Mae takut kedua orang tuanya semakin terhanyut dalam kesedihan tersebut.

Akhirnya Mae memilih untuk tetap tinggal bersama anak-anaknya di sebuah kontrakan. Melihat kegigihan sang anak untuk tetap mandiri ditengah krisis yang dihadapinya, orangtua Mae pun hanya mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya tersebut. Mae pun terus berusaha agar dapat memberikan hal yang terbaik demi buah hatinya.


Meskipun Mae adalah seorang janda, tapi sosoknya begitu terkenal dikalangan para tetangga bukan karena statusnya melainkan tentang kepribadiannya yang sangat santun, ramah, peduli dan ringan tangan dalam membantu orang lain. Qodarullah berkat sisi positif yang ada melekat pada diri Mae ini, Mae diajak rekanannya untuk berbisnis sebuah usaha “Rumah Makan”. Teman Mae ini sangat mengetahui kelebihan Mae, yaitu sangat terampil dalam memasak, dan cocok dilidah semua kalangan.

Tanpa pikir panjang Mae-pun menerima tawaran tersebut dan merintis dari awal usaha bersama dengan temannya. Mae bertindak sebagai koki utama dan temannya sebagai pemilik modal. Bisnis yang dibangun dengan rekanannya tersebut berjalan dengan sangat baik, dan berkembang pesat. Bahkan hanya selang 2-3 tahun bisnis tersebut sudah bisa membuka beberapa cabang disekitaran lokasi yang lainnya.

Dari kisah kehidupan Mae ini, kita dapat melihat bahwa sebenarnya bisa saja Mae menerima tawaran kedua orangtuanya dan bergantung pada mereka untuk membiayai semua kebutuhan hidupnya. Akan tetapi Mae memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Mae lebih memilih berlelah-lelah bekerja, berjuang demi mencukupi kehidupan dapurnya daripada harus meminta belas kasihan orang lain. Hasilnya? lihat bisnis yang dirintis Mae sekarang bisa mencukupi kebutuhan dapurnya, bahkan lebih dari itu. Biaya pendidikan, pangan, papan dapat tercukupi dengan baik. Coba saja kalau Mae diawal memilih menggantungkan hidupnya dan para anaknya kepada kedua orang tuanya. Mungkin sampai sekarang Mae hanya bisa mengadahkan tangannya kepada kedua orangnya, mengharapkan belas kasih dari orang lain.


Intinya adalah seorang muslimah harus mencoba menjadi wanita yang mandiri dalam hal apapun. Selain karena Allah lebih mencintai hambaNya yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, muslimah yang mandiri juga akan menjadi contoh dan panutan bagi lingkungan di sekitarnya. Dia tidak hanya shalihah, cantik, cerdas, dan berakhlak baik, namun juga mandiri dalam hal apapun, sehingga dapat menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Semoga akan semakin banyak muslimah-muslimah mandiri yang hadir di tengah-tengah masyarakat dan memberikan perubahan bagi bangsa dan Islam.


Jumat, 02 Oktober 2015

Penyakit Hati



Akhir-akhir ini entah kenapa ngerasa ada sesuatu yang hilang, tapi tidak tahu itu apa. Segala sesuatu sudah dicoba untuk mendapatkan jawaban tersebut, mulai dari merecall memory, me-list  ini-itu tapi sayang masih belum ketemu sesuatu yang hilang tersebut. Masih belum berhasil juga menemukan penyebab utama kenapa merasakan hal ini. Setiap harinya, jujur masih penasarasan sama apa yang sebenarnya terjadi dengan diri ini. Saya-pun terus berusaha mencari penyebabnya, namun sayang tak kunjung dapat jawaban *tsaah bahasanya saa.. ekeke*.  Sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk ambi baca buku, iya seperti apa yang diungkapkan oleh Maryanne Wolf bahwa dengan membaca buku mampu mengalihkan segalanya. Mulai dari dari mengurangi stress, meningkatkan konsentrasi, membangun rasa percaya diri, dan berpikir kritis. Iya disaat membaca mampu membuat otak kita untuk fokus menciptakan gambaran, bercerita, dan mengalihkan segala gundah ataupun permasalahan yang dirasa dengan fokus untuk mengikuti alur ceritanya. Bagi saya-pun buku adalah senjata utama untuk mengalihkan keadaan ini. Untuk bisa terbebas dari segala belenggu ini.



Mulai melihat daftar bacaan yang ada dikamar, lihat beberapa list beberapa judul buku yang dirasa dapat mengusir perasaan aneh ini. Yap, mulai dari novel picisan, pengembangan diri, parenting. Iya, semuanya sudah selesai saya baca. Semuanya bahkan telah selesai saya review dalam beberapa tulisan pendek. Namun sayangnya, keberhasilan saya dalam merampungkan seluruh buku-buku tersebut belum mampu mengusir perasaan aneh yang ada pada diri ini. Entah kenapa sehabis melahap buku 1,2, perasaan saya berhasil tenang. Namun selang beberapa jam, saya kembali merasakan sesuatu yang hilang, dan perasaan aneh itupun muncul kembali.

Hal ini rasanya sangat aneh bagi saya, iya sebab biasanya saya selalu berhasil mengalihkan segala pikiran dan kesemrawutan hati, hanya dengan membaca. Iya, bahkan biasanya, saya merasa terlahir kembali dan lebih fresh ketika berhasil melahap buku-buku tersebut. Ya, namun kini saya tidak berhasil mengalihkannya. Saya-pun kembali berpikir mungkin ada yang salah dalam pola membaca saya. Iya, mungkin saya yang kurang fokus, atau mungkin saya terlalu lama dalam menghabiskan satu-persatu buku-buku tersebut. Entahlah namun kini saya memilih untuk mencari lagi buku pengganti dan berusaha untuk fokus membacanya, menghayatinya, dan memasukkannya dalam qalbu. Nah untuk buku yang seperti ini, rasanya hanya buku rohani yang dapat mengcovernya. Kembali saya cari daftar buku yang ada dikamar, hingga akhirnya bertemulah dengan buku karangan Amru Khalid, yang berjudul “Ibadah Sepenuh Hati”.



Pikiran utama yang muncul ketika melihat judul buku ini adalah, ehm sepertinya judul ini terlalu berat. Tapi baiklah saya coba membacanya, toh tidak ada salahnya ungkap dalam hati. Lembar-demi lembarpun berhasil saya baca dengan sangat lama. Iya, tidak biasanya saya begitu lama dalam membaca lembar-perlembarnya. Tapi jujur, lembar-perlembar kalimat yang ada didalam buku ini berhasil membius perhatian saya dan  begitu menyindir saya. Iya, membuat hati ini rasanya ditusuk oleh ribuan anak panah. Memporak-porandakan otak dan pikiran saya hanya untuk fokus membacanya. Hanya untuk fokus me-recall segala tindak-tanduk diri. Iya, sebegitu dalam maknanya. Hingga sampailah saya pada pembahasan “Trilogi Hati”. Jujur bab ini begitu melumpuhkan semua kekuatan diri. Begitu membuat diri ini merasa malu, kecil, kotor dan sangat jauh dari diriNya. Itulah beberapa perasaan yang saya rasakan ketika membaca kalimat per kalimat berikut ini:

Trilogi Ibnul Qayyim: Penyakit dan Obatnya

Ibnu Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah sobekan yang tidak bisa dijait kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah ta’ala. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tidak mampu diobati kecuali dengan menyendiri bersamaNya. Di dalam hati juga ada sebuah kesedihan yang tidak akan mampu dihilangkan kecuali oleh kebahagiaan yang tumbuh karena mengenalNya dan ketulusan berinteraksi dengan-Nya. Di dalam hati juga ada sebuah kegelisahan yang tidak akan mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun karena Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju Allah. Di dalam hati juga, terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali oleh keridhaan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan denganNya”.

Baca dan perhatikan baik-baik kalimat tersebut. Coba renungkan dan resapi, semoga anda merasa tersetuh olehNya. Semoga anda merasakan apa yang saya rasakan paska membacanya. Semoga hati anda terketuk oleh kehadiraNya.

Iya, kalimat tersebut begitu membius perhatian saya. Mari kembali kita baca secara perlahan “Di dalam hati ada sebuah sobekan, keterasingan, kesedihan, kegelisahan, dan gejolak api…  Ada beragam penyakit yang obatnya itu hanya satu, dan terkadang justru kita lupakan atau bahkan kita kesampingkan. Iya, yaitu hanya dengan “Mengenal Allah”. Hanya dengan Mengenal-Nya, Membersamai-Nya, dan MenjadikanNya yang utama dalam hidup kita. Persis seperti yang tertuang dalam surat Ar-Rad Ayat 28: “Dan hanya dengan mengingatnya hati menjadi tentram”.


Dan ternyataaaaa, Se-simple itu loh obatnya. Iya, segampang itu. Namun sayang, jiwa ini terkadang terlalu tertutup untuk menyadarinya. Dan iya, saya jadi malu  sendiri. Begitu malu karena telah menutup rapat-rapat pintu untuk bersama denganNya. Begitu malu karena terlalu mendewakan hal-hal yang sifatnya fana. Dan iya, mungkin inilah jawaban atas perasaan yang sedang menghinggapi diri ini. Alhamdulilah selang membacanya, saya-pun merasa begitu tenang, damai. Ehm, ternyata sesuatu yang selama ini saya cari, sesuatu yang selama ini saya risaukan itu karena kegagalan saya mengutamakanNya dalam perjalanan hidup ini. Kegagalan saya bersama denganNya dalam setiap rentetan aktivitas hidup ini. Sebegitu sibuknya jiwa ini, hingga terlupa bahwa Dia begitu merindukan saya. Bahwa Dia ingin mendengar suara-suara kekasihnya. Dan jujur, saya begitu merasa bahagia karena telah berhasil menemukan jawaban teka-teki ini. Aaah, terimakasih tuhan!