Setiap orang pastinya memiliki cara
pandang atau penilaian tersendiri mengenai seseorang. Apalagi perihal
perempuan. Iya, sekali melihatnya saja banyak sisi positif yang bisa digali
terhadapnya. Sholehah, cerdas, cantik, ramah, dan masih banyak sisi lainnya
yang melekat pada diri seorang perempuan. Jika kesemua sisi tersebut kita
padukan jadi satu, mutlak sudah dia adalah seorang perempuan yang begitu
sempurna. Well, apalagi jika pada diri seorang perempuan tersebut melekat satu
kata lagi, yaitu “mandiri”. Sudah sangat dipastikan perempuan tersebut
merupakan perempuan hebat, and maybe we
can call her as wonder women.
Sosok perempuan seperti ini sebenarnya
banyak bermunculan disekitaran kita. Terkadang hanya saja kita terfokus melihat
dari sisi lainnya sehingga hal tersebut tertutupi dari sisi positif lainnya yang
ada pada diri seorang perempuan. Namun ternyata, perempuan juga penting untuk
menjadi pribadi yang mandiri. Coba kita kembali lihat sisi positif yang melekat
pada diri perempuan cantik, sholehah, ramah, positif, cerdas. Tentunya akan
menjadi nilai tambah tersendiri bagi perempuan tersebut apabila dia dapat mandiri
dalam kehidupannya. Mandiri disini berarti mencoba untuk tidak bergantung pada
siapapun untuk mencukupi segala macam kebutuhan hidupnya dan selalu berusaha
untuk meningkatkan kehidupannya lebih baik lagi. Perempuan
yang mandiri selalu percaya bahwa rezeki itu sudah ditentukan oleh Allah
sehingga selama dia mengusahakan yang terbaik, dia yakin Allah akan memberikan
yang terbaik. Contoh yang paling bisa kita jadikan panutan yaitu Bunda
Khadijah. Beliau adalah sosok yang sangat mulia dan tersohor karena kehebatan
beliau dalam me-manage wirausahanya.
Bahkan lewat bidang usaha yang digelutinya, beliau dapat membantu Nabi Muhammad
SAW dalam menyiarkan agama islam ini.
Allah memang sangat menyukai para
hamba-hambanya yang dapat mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Allah
lebih menyukai hambanya yang tangannya berada diatas dari pada dibawah
meminta-minta. Dalam surat An Najm ayat 39, Allah berfirman, “Seseorang tidak
mendapatkan sesuatu kecuali apa yang telah diusahakannya.” Dalam hadis yang
diriwayatkan oleh Bukhari pun disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Niscayalah jikalau seseorang dari engkau semua itu mengambil
tali-talinya-untuk mengikat-lalu ia datang di gunung, kemudian ia datang
kembali di negerinya dengan membawa sebongkahan kayu bakar di atas punggungnya,
lalu menjualnya kemudian dengan cara sedemikian itu Allah menahan wajahnya-
yakni dicukupinya kebutuhannya, maka hal yang semacam itu adalah lebih baik
baginya daripada meminta-minta sesuatu pada orang-orang, baik mereka itu suka
memberinya atau menolaknya.” Hadis dan ayat Al Qur’an ini menunjukkan bahwa
mandiri adalah salah satu sifat seorang mukmin yang dicintai Allah.
Oleh karena itu, bagi para muslimah
yang memilih untuk mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain, kita pantas
untuk menyebutnya sebagai seorang Muslimah wonder
women.
Selain kisah Khadijah, kisah para wanita muslimah mandiri lainnya juga dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja nama muslimah tersebut adalah Mae. Mae adalah seorang muslimah yang berasal dari golongan menengah dan memiliki dua anak. Sayangnya ketika anak pertamanya menduduki bangku SMA, ujian Allah datang kepada Mae yaitu suaminya yang bermasalah. Singkat cerita permasalahan ini sudah tidak bisa lagi termaafkan karena suami Mae sudah berkali-kali melakukannya, dan Mae merasa tidak kuat lagi menanggung rasa sakit akan hal tersebut. Perceraian adalah jalan yang diambil Mae pada saat itu.
Keputusan Mae ini, tentunya berdampak
terhadap kehidupannya juga anak-anaknya. Iya, sang anak kini tinggal bersama
Mae. Anak pertama Mae kelas 1 SMA, dan anak kedua Mae kelas 1 SMP. Mae yang
pada kala itu berprofesi hanya sebagai ibu rumah tangga, kini harus berputar
otak bagaimana cara menghidupkan keluarga kecilnya lepas pisah dari sang suami.
Alhasil Mae-pun melakukan banyak cara agar dapat menghidupi keluarganya, mulai
dari buruh cuci dan gosok, menjadi penjahit dadakan, serta memomong anak
tetangga. Iya, semua hal Mae tempuh agar dapat menghidupi keluarga kecilnya.
Mengetahui perceraian yang terjadi
pada Mae, sontak orang tua Mae begitu terkejut. Apalagi dengan para cucunya,
sebagai seorang nenek dan kakek pasti tidak ingin cucunya menderita. Orang tua
Mae-pun menawarkan Mae bersama semua anaknya dapat tinggal dirumahnya, jadi
tidak perlu repot lagi untuk membayar kontrakan dan kehidupan lainnya. Dalam
hal ini Mae ragu, apakah mesti menerima tawaran dari kedua orangtuanya atau
tidak. Karena Mae tau dengan pisahnya dia saja sudah memunculkan kesedihan
tersendiri bagi kedua orangtuanya. Apalagi ketika dia memutuskan untuk tinggal
bersama dengan kedua orangtuanya, Mae takut kedua orang tuanya semakin
terhanyut dalam kesedihan tersebut.
Akhirnya Mae memilih untuk tetap
tinggal bersama anak-anaknya di sebuah kontrakan. Melihat kegigihan sang anak
untuk tetap mandiri ditengah krisis yang dihadapinya, orangtua Mae pun hanya
mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya tersebut. Mae pun terus berusaha agar
dapat memberikan hal yang terbaik demi buah hatinya.
Meskipun Mae adalah seorang janda,
tapi sosoknya begitu terkenal dikalangan para tetangga bukan karena statusnya
melainkan tentang kepribadiannya yang sangat santun, ramah, peduli dan ringan
tangan dalam membantu orang lain. Qodarullah berkat sisi positif yang ada melekat
pada diri Mae ini, Mae diajak rekanannya untuk berbisnis sebuah usaha “Rumah
Makan”. Teman Mae ini sangat mengetahui kelebihan Mae, yaitu sangat
terampil dalam memasak, dan cocok dilidah semua kalangan.
Tanpa pikir panjang Mae-pun menerima
tawaran tersebut dan merintis dari awal usaha bersama dengan temannya. Mae
bertindak sebagai koki utama dan temannya sebagai pemilik modal. Bisnis yang
dibangun dengan rekanannya tersebut berjalan dengan sangat baik, dan berkembang
pesat. Bahkan hanya selang 2-3 tahun bisnis tersebut sudah bisa membuka
beberapa cabang disekitaran lokasi yang lainnya.
Dari kisah kehidupan Mae ini, kita dapat
melihat bahwa sebenarnya bisa saja Mae menerima tawaran kedua orangtuanya dan
bergantung pada mereka untuk membiayai semua kebutuhan hidupnya. Akan tetapi
Mae memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Mae lebih memilih
berlelah-lelah bekerja, berjuang demi mencukupi kehidupan dapurnya daripada
harus meminta belas kasihan orang lain. Hasilnya? lihat bisnis yang dirintis
Mae sekarang bisa mencukupi kebutuhan dapurnya, bahkan lebih dari itu. Biaya
pendidikan, pangan, papan dapat tercukupi dengan baik. Coba saja kalau Mae
diawal memilih menggantungkan hidupnya dan para anaknya kepada kedua orang
tuanya. Mungkin sampai sekarang Mae hanya bisa mengadahkan tangannya kepada
kedua orangnya, mengharapkan belas kasih dari orang lain.
Intinya adalah seorang muslimah harus
mencoba menjadi wanita yang mandiri dalam hal apapun. Selain karena Allah lebih
mencintai hambaNya yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, muslimah
yang mandiri juga akan menjadi contoh dan panutan bagi lingkungan di
sekitarnya. Dia tidak hanya shalihah, cantik, cerdas, dan berakhlak baik, namun
juga mandiri dalam hal apapun, sehingga dapat menginspirasi orang-orang di
sekitarnya. Semoga akan semakin banyak muslimah-muslimah mandiri yang hadir di
tengah-tengah masyarakat dan memberikan perubahan bagi bangsa dan Islam.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar